Shaking Heart (Chapt 02) [Fanfiction]

Annyeonghaseyo . . .

Ini FF DC a.k.a Case Closed buatan saia, udah pernah di publish d FB saia and di fanfiction.net

dan ini link Part 1

Enjoy it,,,

Dan jangan lupa tinggalkan sesuatu,
thank youuu

 

 

Tittle            :  Shaking Heart (Part 02)

Sub-tittle   :  Only One Person

Main Cast   :  Kudou Shinichi

Mouri Ran

Genre           : Romance

Length         :  Series

Disclaimer : I don’t own all this character. All of them is belong to Aoyama sensei. I just have the plot story.

Don’t like don’t read. And no bashing, please. . .


I knew I would love only one person

I knew I would wait for only one person

Because other loves couldn’t touch my heart

If it’s not you,

then there is no love

(FT Island)

Shinichi’s POV

“ Aissh . . . professor, tak adakah game lain yang permainannya lebih susah dan kasusnya lebih sulit lagi ?? “ tanyaku sambil bangkit mengambil minuman dari kulkas. Aku sedang di rumah professor sekarang, menghabiskan waktu dengan bermain game-game buatannya. Sebenarnya, tak bisa dibilang menghabiskan waktu, karena dari 10 game baru ciptaannya, aku sudah menyelesaikan kesepuluhnya dalam waktu kurang dari 2 jam.

Sama sekali tak membantu, padahal aku sekarang sedang berusaha mengalihkan pikiranku dari Ran. Bukan, bukan untuk melupakannya tentu saja. Aku hanya sedang berusaha mencari cara untuk jujur pada Ran. Tentang diriku dalam tubuh yang mengecil, tentang organisasi, tentang semuanya.

Toh sekarang tak ada yang perlu kutakutkan lagi. Sudah 4 bulan berlalu sejak ‘kami’ sukses menghancurkan organisasi. Aku benar-benar senang karena hal yang selama ini menjadi hasrat terbesarku akhirnya berhasil juga. Tapi, sejak hari itu pula, aku selalu tergoda untuk bicara jujur pada Ran. Kalau dulu, aku selalu diam, karena aku sama sekali tak ingin membuatnya dalam bahaya. Aku tak akan membiarkannya menanggung akibat dari perbuatanku. Walaupun untuk itu, aku harus mengorbankan hidupku.

Tapi sekarang kan suasananya sudah berbeda. Tak ada lagi bahaya serta ketakutan dari organisasi itu. Aku benar-benar sudah bisa bernafas lega. Cukuplah selama ini, aku membiarkannya gelisah mencemaskanku. Cukuplah aku membiarkannya menangis merindukanku. Aku tak ingin dia menangis lagi karena aku. Menyuruhku pulang, memintaku datang, atau hanya sekedar ingin bertemu.

Salah bicara sedikit saja, dia jadi semakin ingin bertemu. Padahal laki-laki menyebalkan yang dia tunggu-tunggu tak kunjung datang. Aku tak mau melihat air matanya lagi, walaupun aku harus hilang dari hatinya.

“ Kudo-kun “ aku menoleh kearah suara yang memecahkan lamunanku. Gadis berambut merah yang memiliki nasib yang serupa denganku rupanya.

“ Apa yang kau lakukan disini ?! “ pertanyaannya itu, seperti merasa repot jika aku berkunjung kemari. Padahal kerjaannya hanya mengurung diri terus di kamarnya. Entah apa yang dia lakukan disana. Baik aku maupun professor tak tahu dan juga tak mau mencari tahu. Sama sekali tak ingin mencari masalah dengan gadis ini.

Oh ya, dia juga orang yang paling menentang keras keinginanku untuk berkata jujur pada Ran dalam tubuh Conan ini. Katanya, ada kemungkinan Ran tak mempercayai perkataanku, atau apabila dia percaya, bisa-bisa dia marah dan malah mengeluarkan jurus karatenya padaku. Yang tentu saja, tak bisa kutahan dalam tubuh kecil ini.

“ Ini . . .”

Dia memberikan sebutir kapsul padaku yang malah menatapnya dengan pandangan bertanya.

“ Kau ingin cepat-cepat mengatakan kebenaran pada pacarmu itu, kan ?! Setidaknya dengan ini, kau bisa lebih leluasa mengelak saat dia ingin mengeluarkan jurus karate padamu. Atau dengan ini, kau bisa menggunakan kaki-kakimu yang panjang untuk berlari dengan kencang saat mengejarnya yang tak mau mendengar penjelasanmu. “

Kutatap baik-baik gadis di depanku itu. Wajahnya masih tetap tak menunjukkan ekspresi apapun. Kucerna baik-baik setiap perkataannya. Kucerna dan kupikirkan lagi dengan seksama. Apa aku tak salah dengar ?! Dia sedang mengatakan bahwa dia menemukan penawar itu ?! Penawar dari obat yang membutku menjadi Conan Edogawa ?? Benarkah ??

“ Ya.. aku sudah menemukannya. Penawar Apotoxin 4869, obat yang membuat tubuhmu dan tubuhku mengecil. Setelah mendapat data obat itu dari organisasi, aku berusaha untuk membuat penawarnya. “

Dia memberikan lagi obat di tangannya itu. Aku menatap obat itu dan wajahnya secara bergantian selama beberapa saat. Kemudian, mengulurkan tanganku untuk mengambil obat itu dari genggamannya.

“ Haibara . . . “

“ Shiho. Panggil aku Shiho. Karena mulai sekarang Ai Haibara takkan ada lagi. Begitu juga dengan Conan Edogawa. Yang ada hanya Shiho Miyano dan Shinichi Kudo “

Dia berbalik kembali menuju kamarnya. Aku ingin menahannya, mengatakan berbagai pertanyaan dan pernyataan yang berputar-putar di kepalaku. Tapi tak bisa, badanku kaku, mulutku kelu. Aku bahkan merasa sedikit sesak saat bernafas. Hey, mimpi apa aku semalam ?! Benarkah ini penawarnya ?! Benarkah aku bisa kembali ke tubuh Shinichi Kudo ?! Benarkah ?!

Aku sama sekali tak percaya dengan ini. Benar-benar seperti keajaiban. Bahkan aku tak bisa merespon professor yang mendekat dan memelukku. Aku langsung memikirkan Ran dan tanpa sadar tubuhku bergerak secara spontan menjalankan rencana yang sudah kutahan-tahan selama 4 bulan. Bertemu dan bicara dengan Ran.

*****

Tuhaaan . . .

Sekarang apa lagi ?? cobaan apa lagi ini !?

Setelah susah payah menahan diri selama 4 bulan untuk bicara jujur pada Ran, tapi dia malah tak mau mendengar penjelasanku. Apa dosaku Tuhan ?!

Apa ?!

Aku tahu aku salah karena selama ini telah membohonginya. Aku tahu aku tak pantas mendapatkan maaf seutuhnya. Tapi setidaknya, biarkan dia mendengar penjelasanku dulu. Setidaknya setelah itu dia bisa berpikir dengan logis. Setelah perasaannya tenang. Setelah amarahnya reda.

Tapi baru saja aku menjelaskan detail kasusnya dia malah pergi. Tak meresponku, tak menjawabku. Padahal aku sudah siap dengan semua hal yang mungkin akan dia tanyakan. Padahal aku sudah siap, jika dia memarahiku, memakiku atau bahkan menghajarku. Aku tak apa-apa. Tapi dia malah menangis dan meninggalkanku sendiri.

Aku lebih memilih babak belur karena pukulan karatenya. Aku lebih baik mendengar semua caci maki serta amarahnya. Daripada harus melihatnya menangis. Menangis dan lagi-lagi karena aku. Tak adakah gunaku di dunia ini Tuhan, selain membuatnya menangis. Selain membuatnya terluka.

Arrrrrggghh  . . . .

*****

Ddrrtt. . . drrrtt. . .

Ah, hp-ku bergetar ternyata,

“ Moshi-moshi . . . ah, Professor ada apa ?!”

“ Aku mau ke taman. Kata Sonoko, Ran ingin bicara denganku. Apa ??! “

Aku segera menutup telpon dan lari kembali ke rumah professor. Professor bilang kalau dia tak bisa menemukan Haibara dimanapun. Dia juga tak bilang pada Professor kalau ingin keluar.

Aissh . . . gadis itu, benar-benar membuatku marah. Kemana dia saat seperti ini. Aku sudah menyuruhnya untuk tetap diam di rumah. Ada kemungkinan anggota kawanan organisasi itu masih berkeliaran. Bagaimana kalau salah satu dari mereka mengenalinya dan malah menangkapnya. Itu berarti semua usaha ini akan sia-sia belaka. Arrgghhh . . .

Aku segera mengeluarkan Handphone dan mendiall nomor pertama dalam kontakku.

“ Ah,, Ran, maaf aku . . .”

*****

Yayayaya. . . .

Aku tahu untuk berjuta-juta kalinya aku yang salah. Aku tahu bahwa dari semua kejadian ini selalu aku yang salah. Tapi, hey. . . tak bisakah dia mengerti ?! Untuk sekali saja. Aku detektif, dan keselamatan klien adalah hal yang utama bagiku. Dalam hal ini Ai Haibara atau Shiho Miyano, adalah klienku. Klien yang harus kujamin keselamatannya. Jadi aku tak mungkin membiarkannya dalam bahaya begitu saja. Aku tak mungkin hidup tenang dan bahagia sementara klienku meregang nyawa. Detektif macam apa aku kalau begitu.

Tak bisakah dia mengerti aku kali ini. Hanya dia satu-satunya orang di hatiku. Hanya dia satu-satunya orang yang akan kutunggu. Karena cinta yang lain sama sekali tak bisa menyentuh hatiku. Jika bukan dia, maka tak akan ada cinta.

Huhh. . . kalau Heiji mendengar apa yang kupikirkan ini, mungkin dia akan menertawaiku habis-habisan. Sejak kapan aku jadi mellow begini. Sejak kapan aku bisa memikirkan kata-kata seromantis ini. Hhahah. . .

Tapi, entahlah. Hanya itu yang berputar-putar di kepalaku saat ini. Ran, Ran dan Ran. Bagaimana cara meminta maaf padanya. Bagaimana cara menjelaskan padanya. Dan yang terpenting adalah bagaimana cara agar dia mau bicara denganku. Bagaimana cara agar dia mau menemuiku.

“ Shinichi . . . “

Aku mendongak, tersenyum sekilas dan kembali memandang ke depan. Ke arah serumpun bunga yang tertata rapi di halaman rumahku.

Ibu menepuk bahuku pelan dan mengambil tempat di sebelahku.

“ Masih memikirkan Ran ?! “

Deg… darimana dia tahu aku memikirkan Ran ?! Aku tak pernah membicarakan hal sepribadi ini dengan ayah dan ibu. Tak membicarakannya saja mereka selalu meledek dan menceramahiku tentang ini itu. Bagaimana kalau aku cerita. Hufft . . .

“ Tak usah kaget. Kau anakku, shin-chan. Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan. Naluri seorang ibu pada anaknya lebih tajam dari naluri seorang detektif dengan kasus. “

Tangannya melingkar di bahuku. Mengusap pelan lenganku. Pelan tapi hangat. Aku tersenyum. Biasanya aku malu mendapat perlakuan manja dari ibu seperti ini. Aku kan bukan anak kecil lagi. Tapi, untuk kali ini sepertinya tak apa. Benar kata ibu, sepertinya dia benar-benar paham apa yang kurasakan sekarang.

“ Dia masih tak mau bicara denganmu ?! “

Aku mengangguk pelan.

“ Tak apa. Itu wajar shinichi, kalau ibu jadi dia, ibu pasti akan melakukan hal yang sama. Percaya atau tidak, orang yang kita sayangi adalah orang yang paling sering menyakiti hati kita. Dan untuk memaafkannya, benar-benar butuh kekuatan yang besar. Dan tak mudah mendapatkan kekuatan itu “

Dia menghela nafas sejenak,

“ Ibu tahu, kau pikir Ran gadis yang kuat juga tegar. Tapi, bagaimanapun Ran adalah wanita. Di luar mungkin dia nampak kuat, tapi di dalam tetap saja dia rapuh. Terlalu banyak hal yang harus dia terima, terlalu banyak kenyataan yang dia ketahui. Yang membuatnya kaget. “

“ Percayalah shinichi, suatu saat Ran pasti akan mengerti. Suatu saat, Ran pasti akan menemuimu, bicara denganmu, dan mendengarkan penjelasanmu. Sekarang, dia mungkin belum siap. Dia masih harus menyesuaikan apa yang ada di hatinya dan apa yang menjadi pikirannya. “

“ Semangat, Shin-chan !!! Kalian berdua pasti bisa melewati semua ini. Ganbatte … !!”

Dia pun berdiri, menepuk bahuku pelan, dan masuk kembali ke rumah. Kudengar dia menyayikan sebuah lagu. Aku tertawa kecil mendengar lirik lagu itu, benar-benar cocok dengan keadaanku saat ini. HHahah. . .

A man’s first love goes to his grave

My basis for love was always you

Because I hardly ever gave my heart to you

As if I didn’t even know myself,

I kept missing you. . .

( FT Island)

<tbc>

5 thoughts on “Shaking Heart (Chapt 02) [Fanfiction]

  1. Pingback: Shaking Heart (Chapt 03) [Fanfiction] « I am Hottest ♔ Queen's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s