Goodbye, My Little Rabbit [Fanfiction]

Tittle  :  Goodbye, My Little Rabbit

Cast    :   Park Ji Yeon (T-ara)

Yoo Seung Ho

Genre : Romance

Length : Oneshot

Jiyeon’s POV

“ Ne, umma. Aku akan mengambilnya sepulang sekolah nanti. Anyeong … “ aku segera menutup telpon dan melanjutkan membaca novel trio detektif ‘ Misteri Teka-teki Aneh’ kesukaanku. Tiba-tiba ada yang menutup mataku dari belakang,

“ Ya ! aku tak bisa melihat. “ siapa sih yang usil pagi-pagi begini. Kuraba tangan yang menutup mataku itu. Orang itu memakai sebuah gelang. Kuraba gelang yang dia pakai. Ya… ini kan,

“ Seung Ho,, lepaskan tanganmu !” kurasakan dekapannya mengendor. Kubuka mataku perlahan. Tak ada lagi tangan yang menutupi mataku. Aku mengejap-ngejapkan mataku, agar terbiasa lagi dengan cahaya yang masuk.

Seung Ho mengambil tempat disebelahku. Kulirik wajahnya yang sedang kesal itu. Aku tersenyum simpul.

“ Aisshh… Jiyeon-ah. Kenapa kau tahu kalau itu aku?? “ wajahnya diliputi tanda tanya. Mata hitam bulatnya itu menatapku. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Aku segera memalingkan wajahku dan pura-pura asyik dengan novel yang sedang kupegang. Aku tak ingin dia melihat wajahku yang merona merah. Aku tak ingin dia mendengar jantungku yang berdegup kencang.

“ I.. itu karena gelang yang kau pakai. “ kulirik dia diam-diam. Dia sekarang malah memperhatikan gelang yang dipakainya. “ Memangnya kenapa dengan gelang ini?? “ dia masih memandangi gelang pemberianku itu dengan penasaran.

“ Aissh.. kau ini. Aku tadi meraba gelang itu dan mengenali bentuk kelinci yang tergantung disitu. “

Dia memandangku sejenak kemudian mengangguk. Ya … dasar Seung Ho pabbo !! Aku heran kenapa bisa menyukai anak ini. Walaupun dia termasuk anak yang pandai dalam hal pelajaran dan olahraga, namun entah kenapa sifat tulalitnya itu suka kambuh. Sama seperti sekarang ini. Ckckckck….

Kulirik lagi anak itu, dia baru akan bicara lagi saat Hp-nya berdering,

“ Yoboseo..”

“ Ah, ne, aku kesana sekarang “

“ Jiyeon-ah, aku pergi dulu. Sonsengnim mencariku. Anyeong …” dia segera berlari kembali ke kelasnya. Aku hanya bisa menggeleng melihat tingkah anak itu. Pasti di kelasnya sedang ada guru sekarang dan dia hanya minta izin untuk ke toilet, seperti biasa . Hal itu selalu dilakukannya setiap hari. Entah kenapa. Seung Ho Pabbo . . .

*****

Seung Ho’s POV

“ Aisshh… Jiyeon-ah. Kenapa kau tahu kalau itu aku?? “ aku benar-benar bingung, kenapa dia bisa menebak dengan tepat seperti itu. Apa itu yang namanya telepati?? Aku menatapnya dan mendekatkan wajahku padanya. Sekarang wajah kami hanya berjarak beberapa senti. Tiba-tiba dia segera memalingkan wajah dan kembali asyik dengan novel di tangannya itu. Hey, apa aku salah lihat atau memang benar, aku sempat melihat wajahnya memerah sebelum dia berpaling tadi. Aissh.. apa yang kau pikirkan Yoo Seung Ho ?! Itu tak mungkin terjadi.

“ I.. itu karena gelang yang kau pakai. “ setelah beberapa detik, dia pun menjawab pertanyaanku tadi. Gelang yang kupakai ?? Aku memperhatikan gelang yang kupakai. Gelang ini pemberiannya saat ulang tahunku 2 minggu lalu. Gelang berhiaskan gantungan kelinci. Sebenarnya aku tak suka, terlihat seperti anak perempuan saja, tapi karena ini pemberiannya, makanya kupakai.

“ Memangnya kenapa dengan gelang ini?? “ aku masih sibuk memandangi gelang di tanganku itu.

“ Aissh.. kau ini. Aku tadi meraba gelang itu dan mengenali bentuk kelinci yang tergantung disitu. “ jelasnya dengan wajah kesal. Sepertinya sifat tulalitku berhasil membuatnya kesal. Aku pun memandangnya sejenak dan mengangguk. Hahaha… dasar, bodohnya aku ini. Aku baru akan membalas ucapannya, saat Hp-ku bordering,

“ Yoboseo..”

“ Ah, ne, aku kesana sekarang “

“ Jiyeon-ah, aku pergi dulu. Sonsengnim mencariku. Anyeong …” aku pun segera berlari kembali menuju kelas. Gawat… Nicole Sonsengnim pasti telah menyadari kalau aku pergi terlalu lama. Aissh.. bisa-bisa kali ini aku dihukum lagi. Kalau bukan dijemur di lapangan sekolah, membersihkan toilet, atau membuat karangan dalam Bahasa Inggris sebanyak 20.000 kata. Huh… memikirkannya saja aku sudah merinding. Aku pun segera mempercepat lariku menuju kelas.

***

Tok tok tok . . .

Aku mengetuk pintu berkali-kali. Tak ada jawaban. Ya ! Apa umma tak ada di rumah?? Apa dia ketiduran ?? Kulirik jam di pergelangan tanganku, pukul 03.30 sore. Apa dia keluar sebentar karena mengira aku belum akan pulang jam begini?? Aissh . . . umma, umma. Aku segera merogoh saku tasku dan menemukan banyak kunci yang tergantung. Aku mencari-cari sebentar untuk menemukan kunci yang pas. Hehehe… untung aku sudah membuat kunci cadangan rumah ini, sehingga aku tak perlu menunggu sampai umma kembali jam 5, jam normal aku kembali dari sekolah. Hari ini eskul sepakbola diliburkan karena lapangan tempat kami latihan dipakai anak-anak eskul paskibraka untuk latihan.

Aku segera membuka pintu itu, masuk dan menguncinya kembali. Hari ini aku lelah sekali, aku ingin tiduran sebentar. Karena tadi ketahuan oleh Nicole sonsengnim, maka aku dihukum menuliskan ‘Maaf, aku takkan mengulanginya lagi’ sebanyak 1000 kali selama sisa jam pelajarannya. Aissh… tanganku ini pegal, rasa-rasanya akan tercabut saja dari tubuhku.

Yah, salahku sendiri memang yang kabur saat jam pelajaran. Kalau Jiyeon tahu, dia pasti akan memarahiku habis-habisan. Katanya dia tak pernah habis pikir denganku yang selalu kabur saat masih ada kelas. Dasar Jiyeon Pabbo !! Aku kan kabur untuk pergi ke kelasnya. Entah itu hanya lewat, pura-pura izin untuk meminjam alat tulis, atau kalau kelasnya sedang kosong seperti tadi, pergi bicara dengannya. Yah,, setidaknya hari itu aku sudah bisa melihatnya, aku sudah cukup senang.

Aku melangkah lunglai menuju ke kamarku di lantai 2, kulihat pintu kamar umma dan appa terbuka sedikit. Sepertinya umma lupa menutup pintunya sebelum pergi tadi. Biasanya dia tak pernah lupa, bahkan selalu menguncinya. Lebih baik kututup saja lagi pintunya, biar umma tak berpikir kalau aku yang berusaha membukanya saat dia pergi.

Aku berjalan pelan kearah kamar tidur umma dan appa. Aku hendak menutup pintunya saat kudengar ada orang yang berbicara di dalam. Ya !! bukannya umma sedang keluar dan appa masih di kantor?? Lalu siapa yang di dalam?? Jangan-jangan maling?!

Aku segera menempelkan kupingku untuk mencuri dengar. Aku penasaran siapa mereka.

“ Appa, apakah harus?? Tidak bisakah kita menunggu sampai akhir tahun ajaran?? Atau setidaknya sampai akhir semester, “

Ya. . .  itukan suara umma. Bukannya dia sedang keluar??

“ Umma, tak bisa, pekerjaan itu akan dimulai lusa, jadi kita harus berangkat besok “

Ya . . . itu suara appa. Berangkat?? Berangkat kemana?? Besok??

“ Tapi, bagaimana dengan Seung Ho, dia pasti ingin berpamitan dengan teman-temannya sebelum pergi “

“ Kita kan masih akan kembali kemari saat liburan. Jadi dia masih bisa bertemu dengan teman-temannya lagi. Sudahlah umma, kemarin aku sudah bertemu dengan kepala sekolahnya, aku sudah mengurus surat pindah. “

M.. Mwo?? Pindah ?? aku akan pindah??

A.. Anni,, aku tak mau. Aku tak mau pindah dari sini. Ini tempatku. Aku,, aku tak ingin berpisah dengan sekolahku, dengan teman-temanku. Terutama, aku tak ingin berpisah dengan Jiyeon. Aku tak mau.

Brukk… Prangg …

Karena shock, aku tak melihat guci di belakangku. Guci itu pecah berhamburan di lantai.

“ Seung Ho … “ sepertinya umma dan appa sudah menyadari kehadiranku. Tapi aku tak peduli. Aku segera berlari ke luar rumah. Aku tak mempedulikan suara umma dan appa yang berteriak memanggilku. Aku hanya berlari dan berlari. Tidak . . . aku tak mau pergi dari sini. Tak mau, aku tak mau berpisah dengan Jiyeon. Tak mau.

Aku berlari menuju taman. Taman dimana aku pertama kali bertemu dengan Jiyeon. Aku duduk di bangku dekat situ. Menenangkan nafas dan hatiku. Tuhan . . . aku tak ingin berpisah dengan Jiyeon. Tak ingin. Kupejamkan mataku, mulai membayangkan wajah Jiyeon. Wajahnya yang sedang tersenyum, marah, kesal, cemberut, menangis, merajuk. Ah… Park Jiyeon, mana mungkin aku sanggup berpisah denganmu??

Kurasakan ada tangan yang menutup mataku. Aku terpaku selama beberapa detik. Bau ini, mana mungkin aku tak mengenali bau ini. Aku menikmati momen indah itu selama beberapa detik. Menikmati tangan Jiyeon yang menutup mataku. Momen ini mungkin akan terjadi terakhir kalinya.

Tiba-tiba kurasakan tak ada lagi tangan yang menutup mataku. Aku membuka mataku perlahan. Jiyeon duduk di sebelahku sambil manyun. Dalam keadaan normal, aku ingin sekali tertawa dan mencubit gemas pipinya. Tapi sekarang, entah kenapa aku ingin sekali menangis, aku tak tahu apa aku masih bisa melihat ekspresinya seperti itu lagi. Untunglah cahaya disini tidak terang, sehingga dia tak bisa melihat mataku yang berkaca-kaca.

“ Aissh… Seung Ho, kenapa kau diam saja?? “ dia menggembungkan pipinya yang putih itu. Aku tersenyum lemas, benarkah aku tak bisa melihatnya lagi?? Aku sama sekali tak ingin mempercayai kenyataan itu.

“ Aku sudah tahu itu kau, Pabbo !! “ ujarku sambil mengacak-acak rambutnya. Dia tersenyum sekilas. Kami terdiam selama beberapa saat.

“ Ya~ !! Seung Ho, tanganmu kenapa berdarah??” dia mengangkat tangan kiriku. Hey, aku juga baru tahu kalau tanganku berdarah. Mungkin luka akibat kena pecahan guci tadi. Darah yang keluar cukup banyak, tapi kenapa aku tak merasakannya?? Apa hatiku jauh lebih terluka sampai aku tak merasakan pedih di tanganku??

“ Kau tunggu disini, aku akan mengambil obat luka dan perban “ ujarnya sambil berlari meninggalkanku. Aku menatap kepergiannya dalam diam. Aku tak ingin hari esok datang. Aku tak ingin pergi meninggalkannya.

Tak sampai lima menit kemudian dia kembali. Dengan telaten dia membersihkan luka di tanganku, mengobatinya kemudian membalutnya dengan perban. Tuhan . . . aku ingin waktu berhenti saat ini, aku ingin bersamanya selamanya.

“ Sudah selesai “ suaranya mengagetkanku. Dia tersenyum padaku, senyuman terakhir untukku. Apa dia bisa merasakan ini terakhir kalinya kami bisa bersama-sama??

“ Jiyeon-ah,, saranghae “ kulihat dia kaget dengan ucapanku barusan. Aku pun heran, kenapa itu bisa terlontar dari mulutku. Dia menatapku sejenak, kemudian tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang putih.

“ Ya~ !! Yoo Seung Ho, itu sama sekali tak lucu. Sudahlah, aku pulang dulu. Umma menyuruhku lekas kembali setelah selesai mengobati lukamu. Ini sudah malam. Anyeong . . . “

Dia pergi, benar-benar pergi. Aku ingin sekali mengejarnya, menahannya, mengatakan kalau aku tak bercanda. Aku serius dengan ucapanku tadi. Tapi entah kenapa, kakiku tak bisa bergerak. Badanku kaku, mulutku kelu. Aku hanya terdiam dan menangis. Goodbye. Goodbye, My Love.

*****

Jiyeon’s POV

Aissh. . . kenapa habis sih?? Padahal aku ingin sekali makan kue coklat yang ada di toko tadi. Tapi kata penjualnya kue itu habis terjual tadi sore. Coba kalau pulang sekolah tadi aku langsung singgah disana, mungkin aku bisa dapat kue itu. Hufft… aku menghela nafas.

Ya… kenapa aku kesini?? Rupanya aku tak sadar dengan langkahku dari tadi. Sekarang aku malah berada di taman. Rumahku kan tidak lewat jalan sini. Aku baru akan berbalik, saat kulihat seseorang sedang duduk di bangku taman seorang diri. Ya~,, itu kan Seung Ho, ngapain dia malam-malam disini?? Ide jahil muncul di pikiranku.

Aku berjalan ke arahnya pelan-pelan. Semoga dia tak mengetahui keberadaanku. Aku pun segera menutup matanya. 1 detik, 2 detik, 10 detik. . .  Ya ! Hampir semenit aku menutup matanya tapi dia tetap diam saja. Biasanya dia langsung ribut mencari tahu siapa yang menjahilinya.

Aissh … tak seru kalau dia diam saja. Aku melepaskan tanganku dari matanya dan beralih duduk disebelahnya. Huh.. menyebalkan. Sepertinya kali ini aku tak bisa membalasnya seperti biasa.

“ Aissh… Seung Ho, kenapa kau diam saja?? “ aku kembali menanyainya, karena kulihat dia diam saja. Hey,, tak biasanya dia diam seperti ini. Apa yang terjadi??

Kulihat dia tersenyum sekilas, seperti dipaksakan saja. Apa benar-benar terjadi sesuatu padanya??

“ Aku sudah tahu itu kau, Pabbo !! “ akhirnya dia bicara. Tangannya refleks mengacak-acak rambutku. Aissh… itu kebiasaan jeleknya. Kalau tidak mengacak rambutku, dia pasti akan mencubit pipiku tanpa ampun. Awalnya aku kesal dengan kebiasaannya itu, tapi lama-lama aku sudah terbiasa. Apalagi kuperhatikan dia tak pernah melakukan hal itu pada yeoja yang lain. Aku tersenyum sendiri. Tiba-tiba mataku terpaku pada tangannya.

“ Ya~ !! Seung Ho, tanganmu kenapa berdarah??” aku mengangkat tangan kirinya itu dan kuamati sejenak. Benar, tangannya berdarah banyak sekali. Bahkan darahnya masih segar, itu berarti dia baru saja terluka. Segera saja rasa cemas sudah menyerangku. Apa dia berkelahi??

“ Kau tunggu disini, aku akan mengambil obat luka dan perban “ ujarku sambil berlari kembali ke rumah. Aku segera masuk mencari kotak obat, umma yang sedang mengajari adikku melihatku dengan heran.

“ Jiyeon-ah, kau kenapa?? Kenapa terburu-buru seperti itu??”

“ Seung Ho terluka umma, aku mengambil kotak obat untuk mengobatinya “ aku segera mengambil kotak obat di lemari dan akan berlari kembali ke taman, tapi umma malah menahan tanganku.

“ Selesai mengobatinya segera pulang, ini sudah malam nak “

“ Ne, umma. “ ujarku sambil berlari kembali ka taman. Kulihat dia masih tetap duduk diam disana. Segera kuhampiri dan kuobati tangannya. Dia tetap tak berkata apa-apa. Namun aku tahu, dia sekarang sedang menatapku.

“ Sudah selesai “ aku meletakkan tangannya kembali dan tersenyum menatapnya. Dia balas menatapku sejenak dan,

“ Jiyeon-ah,, saranghae “ aku kaget dengan ucapannya. Hey, apa yang dikatakan anak ini?? Apa dia sedang bercanda denganku ?? Apa dia tahu, kalau sekarang jantungku rasanya mau meledak saja saking cepatnya dia berdetak?? Beribu kupu-kupu seakan-akan sedang terbang di dalam perutku. Apa, apa dia sadar dengan apa yang dia katakan??

Aku berusaha kembali menguasai diri. Aniya, anniya.. aku tak boleh termakan gurauannya. Anak ini memang sangat suka bercanda.

“ Ya~ !! Yoo Seung Ho, itu sama sekali tak lucu. Sudahlah, aku pulang dulu. Umma menyuruhku lekas kembali setelah selesai mengobati lukamu. Ini sudah malam. Anyeong . . . “

Aku segera pergi dari hadapannya. Aissh.. apa-apaan sih anak itu?? Apa dia pikir hal seperti itu bisa dipakai untuk bercanda?? Aku segera mempercepat langkah untuk kembali ke rumah. Jantungku masih terus saja berdetak kencang. Pipiku masih terasa sangat panas.

Sampai di rumah, aku segera masuk ke kamar. Kudengar umma menanyakan keadaanku. Tapi aku sedang tak ingin bertemu siapa-siapa. Aku tak ingin ada orang yang melihat wajahku yang memerah dan terasa panas ini. Aku tak mau ada yang tahu. Aku segera merebahkan diriku di tempat tidur. Membenamkan wajahku di bantal. Jantungku masih tetap berdegup namun tak sekencang tadi.

Aku mengingat kembali kejadian di taman tadi. Perlahan-lahan senyum merkah di bibirku. Aku tertawa senang selama beberapa saat.

Aissh… dasar Seung Ho Pabbo !! Kenapa dia bercanda dengan hal seperti itu !? Seenaknya saja mengerjaiku. Aku pun terlelap sambil terus memikirkan rencana untuk membalas Seung Ho besok. Awas kau Yoo Seung Ho . . . !!!

*****

Arrggghhhh . . . . .

Aku terbangun seketika dari tidurku. I’ve nightmare. Aku bermimpi Seung Ho pergi meninggalkanku. Nampaknya itu karena semalaman aku terus memikirkannya. Aku mengusap keringat dingin yang membasahi pelipisku. Kulirik jam di meja samping, pukul 05.40 pagi. Lebih baik aku bangun saja dan segera bersiap-siap. Lagipula aku belum menyiapkan peralatan sekolahku. Semalam aku langsung tertidur begitu saja, bahkan aku tak sempat makan malam. Aissh.. umma pasti mati-matian membangunkanku semalam. Aku memang kalau sudah tidur, susah sekali di bangunkan.

Selesai bersiap-siap, aku segera mengambil handuk dan mandi. Ahh,, rasanya segar sekali. Air dingin itu menghapus ingatanku akan mimpi buruk semalam.

Aku segera memakai seragam dan turun ke ruang makan. Disana umma, appa dan adikku yang bandel sudah duduk manis di meja makan.

“ Ya ! Jiyeon-ah,, ayo cepat kemari. Makan sarapanmu. Semalam kau tertidur dan tak sempat makan malam. Umma dan appa sudah berusaha membangunkanmu, tapi tak bisa. Kau ini, cantik-cantik tapi kalau tidur seperti kerbau saja “ sudah kubilang kan, umma pasti akan cerewet pagi ini.

Kami pun mulai makan seperti biasa. Tapi entah kenapa hari ini aku tak terlalu semangat untuk sarapan. Dan umma pun mulai cerewet menceramahiku lagi. Aigoo.. aigoo…

Aku berangkat ke sekolah diantar appa dengan mobil. Sampai di sekolah, entah kenapa perasaanku semakin tak karuan saja. Aku melangkah lunglai menuju ke lokerku. Memasukkan kunci dan membukanya. Eh??! Apa ini ?? Di dalam lokerku ada sebuah bungkusan berwarna merah jambu. Aku segera mengeluarkan bungkusan itu dan melihat isinya. Sebuah boneka dan kalung kelinci serta sepucuk surat. Kubuka perlahan surat itu dengan tangan gemetar. Entah kenapa perasaanku semakin tak enak. Aku pun mulai membacanya,

“ Mianhae, Jiyeon-ah.

Aku tak sanggup mengatakan ini langsung padamu. Aku tak ingin hal terakhir yang kulihat darimu adalah saat kau menangis. Appa-ku mendapatkan pekerjaan besar di luar kota dan kami sekeluarga ikut pindah. Aku pun baru tahu hal ini semalam.

Aku benar-benar tak punya keberanian untuk pamit padamu, itu sebabnya pagi-pagi tadi aku ke sekolah dan meletakkan surat ini di lokermu. Boneka dan kalung kelinci itu untukmu, sebenarnya ingin kuberikan saat ulang tahunmu nanti, tapi sepertinya tak sempat lagi. Jadi kuberikan sekarang saja. Tolong jaga dia baik-baik.

Gomawo, Jiyeon-ah. Terima kasih untuk segalanya. Aku takkan melupakanmu. Kau hal terindah yang pernah hadir dalam hidupku. Soal semalam, aku tak bercanda. Aku menyukaimu sejak pertama melihatmu. Walaupun kau seorang yeoja yang galak, judes, cuek dan sering marah-marah. Tapi, aku tetap menyukaimu.

Mianhae, Jiyeon-ah. Jeongmal mianhae.

Goodbye, My little Rabbit

Yoo Seung Ho

Aku terdiam menatap surat itu. Air mataku menetes perlahan. Perlahan dan lama-lama semakin deras. Tidak, ini pasti hanya lelucuannya lagi. Aku berpaling kesana kemari, mencari keberadaannya yang sedang menahan tawa melihatku seperti ini. Tapi aku tak melihat dirinya dimanapun. Yang ada hanya teman-teman yang menatapku heran. Aku tak peduli. Aku tak peduli mereka mau bilang apa. Aku hanya ingin menemukan anak itu.  Anak yang sedang mengerjaiku. Anak yang semalam menyatakan perasaannya padaku namun kuanggap bercanda.

Tidak, aku pasti bermimpi. Ya.. aku pasti hanya bermimpi. Aku mencubit lenganku dengan sangat kuat. Tapi, aku malah merasakan lenganku sakit dan memerah. Tidak, ini bukan mimpi. Jadi, dia benar-benar pergi?? Dia benar-benar pergi meninggalkanku??

Pabbo !! Seung Ho pabbo. Kenapa dia tak pamit padaku. Seung Ho kembali. Kembali. Aku tak ingin kau pergi. Aku tak mau. Aku terduduk lemas di koridor sekolah. Kupeluk erat boneka kelinci peninggalan terakhirnya itu. Aku menangis. Menangis sejadi-jadinya. Aku tak menghiraukan teman-teman yang mengerubungiku, ingin tahu apa yang terjadi. Beberapa dari mereka berusaha menenangkanku.

Tidak … aku tak bisa tenang dalam keadaan seperti ini. Satu-satunya orang yang kusukai pergi meninggalkanku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Yang ditinggalkannya hanya sepucuk surat yang semakin mengiris hatiku saja. Dia menyukaiku. Orang yang kusukai selama ini ternyata juga menyukaiku.

Tapi, itu tak ada gunanya karena dia telah pergi. Dia pergi. Aku semakin memeluk erat boneka kelinci itu. Seakan-akan itu dia. Tubuhku semakin lemas dan akhirnya semuanya menjadi gelap.

Goodbye. Goodbye, My Love.

< END… >

To be continued in :

Trilogi #2 : Because I Don’t Know How to Love : Chapter 01 Chapter 02

9 thoughts on “Goodbye, My Little Rabbit [Fanfiction]

  1. Pingback: Because I Don’t Know How to Love (chapt. 01) « CyOnew Kudo

  2. woaahhhhh,,,,,*mulutmenganga*
    aku suka,,akusuka,,,,baguuuuuuusss,,banget ceritanya,,,,tuh kan eonni ceritanya menarik banget buat d baca ,,kenapa ga jadi admin aja …. plisss*mataberbinar*yaaah,,yaaah#plaaakkkk

    • admin apaan sih?!
      penasaran deh . . .😀
      admin apaan hayo??!
      *garuk2 kepalanya Jiyeon*

      gomawo😀
      ini ceritanya sedih tpi bnyak yg suka yah
      ckckckckc -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s