Painful Hope [Fanfiction]

Annyeong . . .
Apa kabar? Apa kabar?

Ini FF baru yg baru kelar di bikin, nih…

FF Spesial buat nebus utang saia untuk uri Angel,

Happy redings…

Feel free to comment xD

Gamsa gamsa😀

 

 

Title            : Painful Hope

Main Cast : Shin Eunhwa

                       Hoya INFINITE

Length       : Oneshot

Genre         : It’s a Love Story

 

 

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

 

April 10,  2011

Dear diary. . .

Huwaaa… kau tahu?! Hari ini aku benar-benar senang. JINJA . . . !!!

Tahu kenapa? Sunbae mengantarku pulang. Ne, Hoya sunbaenim. Ahh, eottokhae…

Aku tahu ini berlebihan. Tak ada yang spesial dalam hal itu. Soyeon, Risung, bahkan Minra  juga pernah diantarnya pulang. Begitu juga dengan teman-temanku yang lain. Dia memang orang yang begitu baik. Tapi  tetap saja, uwaaa. . . . . ini pertama kalinya dia mengantarku pulang. Aku bahkan tak bisa bernapas dan berpikir dengan jernih saat dia setuju untuk mengantarku pulang. Bahkan saat melihatku yang hanya berdiri diam karena ‘shock’, dia lagi-lagi hanya tersenyum dan tanpa banyak tingkah memasangkan helm di kepalaku.

Aigoo… eottokhae eottokhae eottokhae ???????????????????????????????????

Aku tahu aku benar-benar bersikap bodoh, tapi apa lagi yang bisa kulakukan?! Untung saja saat itu aku tak pingsan.

Tapi, kalau aku pingsan, apa dia akan panik dan langsung menggendongku ke rumah sakit?! Ahh, eomma… membayangkannya saja sudah membuatku gemetar.

 

 

April 19,  2011

Gila . . .

Gila. . .

Gila. . .

Mereka benar-benar sudah gila.

Bagaimana mungkin mereka menyuruhku mengatakan perasaaanku pada Sunbae. Apa mereka tak punya kerjaan lain. Apa mereka sedang dalam kondisi ‘out of mind’ seperti yang selalu dikatakan Risung?! Ahh jinja . . .

Nampaknya aku harus membawa teman-temanku berobat untuk terapi stress.

 

 

May 27, 2011

Jal handa Eunhwa-ya, Jal haesseo . . .

Good Job !!

Aku benar-benar tak tahu apa yang kulakukan tadi. But,  I did it !!!

Yup, aku mengatakan perasaanku pada sunbae. Semuanya . . .

Aku tak tahu aku mendapatkan keberanian itu darimana. Aku juga tak tahu apa ini salah satu tindakan bodoh yang kulakukan atau bukan.

Yang jelas aku telah melakukannya dan itu telah terjadi. Yup, melakukan kegilaan seperti yang mereka sarankan padaku. Dan melihat ekspresi sunbae tadi, molla, dia memang terlihat terkejut mendengar pengakuan itu, dia juga sempat diam.

Lama . . . yah sedikit lebih lama dari yang biasa dia lakukan. Tapi setelah itu dia tersenyum koq. Yup, dia menatapku dan tersenyum. Apa artinya itu?

Aigoo… saking gugupnya aku bahkan tak punya lagi keberanian untuk menanyakan tanggapannya. Umm, mungkin aku harus melakukannya di lain hari?!

 

 

July 12, 2011

Ahh, sepertinya setelah momen pengakuan itu, aku tak lagi punya keberanian untuk mengatakan apa-apa pada Hoya sunbaenim.

Yup, bad me. Aku terlalu takut untuk menanyakan tanggapannya tentang ‘my confession’ waktu itu. Tapi, selama waktu yang kami lewati ini semuanya berjalan dengan amat sangat lancar. Kami jadi sering berhubungan lewat pesan teks. Dia bahkan meneleponku beberapa kali, walaupun kami jadi sering terdiam selama beberapa saat. Aku juga tak tahu mengapa, aku selalu begitu gugup mendengar suaranya, apa dia juga begitu? Merasa gugup sampai tak tahu apa yang harus diucapkan?

Dia juga jadi sering mengantarku pulang, yang mengakibatkan mau tak mau dia harus berhadapan dengan uri eomma yang cerewet dan banyak tanya itu. Tapi, sepertinya dia terlihat tenang-tenang saja menghadapinya. Apa itu artinya dia juga punya perasaan yang sama denganku?!

Umm, maybe yes :p

 

Yeoja itu menutup buku diary bersampul ungu itu dan kembali menyeruput milkshake dihadapannya. Diraihnya handphone dihadapannya itu dan kembali tersenyum-senyum sendirian. Pandangannya jatuh pada pada wallpaper di handphone bercasing ungu miliknya itu. Foto dirinya dan seniornya yang diambil beberapa waktu lalu saat mereka jalan bersama. Mereka bahkan mengenakan baju yang bermotif sama. Dengan tanpa sengaja tentu saja.

“ Unmyeongida “ lirih yeoja itu sambil tersenyum. Matanya beralih menatap pemandangan di luar jendela. Terpaku beberapa saat, sebelum retinanya sontak menatap sesosok namja berjaket putih yang berjalan memasuki cafe tempatnya duduk kini. Namja itu menoleh ke kanan kiri mencari tempat, sebelum akhirnya dia bergerak duduk di bangku paling pojok bangunan itu.

Begitu duduk, namja itu segera mengeluarkan handphone dari saku jaketnya dan mulai asyik tenggelam di dalamnya. Sama sekali tak menyadari yeoja yang sedari tadi memperhatikannya itu kini berdiri tepat dihadapannya dengan senyum lebar.

“ Sunbae “ suara yeoja itu sontak mengagetkan namja itu. Hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan sebutan seperti itu dan kenyataan bahwa orang itu kini berada dihadapannya sukses membuat namja itu terpaku selama beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum.

“ Kau sendirian?! “ tanya yeoja itu lagi, kali ini sudah mengambil tempat tepat dihadapan namja itu duduk.

“ Ahh Eunhwa-ya, aku menunggu orang “ jawab namja itu sedikit gugup.

Kedua orang itu terlibat pembicaraan selama beberapa menit, sebelum orang yang ditunggu namja itu datang. Seorang namja dan seorang yeoja.

“ Woohyun oppa “ sapa yeoja bernama Eunhwa itu mengenali namja yang baru saja datang. Dia sedikit lega melihat orang yang ditunggu sunbae-nya itu ternyata Woohyun, teman sunbae-nya.

“ Eunhwa-ya. Apa yang kau lakukan disini ? Kalian datang bersama? “ sapa namja bernama Woohyun itu ramah. Dia mengambil tempat duduk yang masih kosong  diikuti oleh yeoja yang juga datang bersamanya itu.

“ Ani, aku tadi duduk sendirian disini dan tiba-tiba melihat sunbae masuk kemari. Jadi aku datang menghampirinya. “ jelas Eunhwa sambil memamerkan senyumnya. Matanya melirik pada yeoja yang kini duduk diam itu.

“ Nugu?! Yeoja…chingu ?! “ tanyanya lagi penasaran. Woohyun yang ditanya seperti itu, mendadak tersenyum dan menggeleng pelan.

“ Ahh, neon mollayo?! “ matanya melirik Hoya yang kini diam itu.

“ Kenalkan, ini Eunhwa, Shin Eunhwa, junior kami di kampus “ ujar Woohyun mengenalkan Eunhwa pada yeoja cantik yang kini tersenyum itu.

“ Eunhwa-yaa, ini Minzy, dia . . . “

 

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Ketiga yeoja itu berdiri mematung di depan pintu kamar bercat ungu itu. Ketiganya sama-sama gelisah. Ingin sekali menerobos masuk ke dalam, menenangkan sahabat mereka yang kini sedang berdiam diri di dalam kamar itu. Tapi ketiganya juga bingung, kalimat apa yang harus mereka gunakan kali ini untuk dapat menghiburnya.

Ada jeda sekitar beberapa puluh menit, sebelum ketiganya nekat masuk ke dalam. Kamar itu tak terkunci. Isi kamarnya juga tak terlihat berantakan ataupun acak-acakan, masih tetap terlihat rapi seperti biasanya. Tak ada yang terlihat berbeda dengan keadaan kamarnya, namun pemiliknya yang kini duduk meringkuk di atas tempat tidurnya itu jelas terlihat berbeda. Tak lagi ceria seperti biasanya.

Memang dia tampak tenang, bahkan tak ada airmata yang menghiasi wajah mulusnya. Namun ketiganya tahu, yeoja itu sedang menangis di dalam hatinya. Matanya yang biasa memancarkan kehidupan dan semangat itu kini tak memancarkan apa-apa. Matanya hanya menatap kosong ke atas seprei bermotif malaikat miliknya itu. Tak ada suara bahkan isakan yang terdengar.

“ Eunhwa-yaa “ panggil Minra yang kini ikut mengambil posisi di dekat yeoja yang masih terdiam itu. Yeoja itu mendongak sekilas, menyadari kehadiran ketiga temannya, kemudian kembali diam menunduk lagi, tak menyahut sama sekali.

“ Gwaenchana ?! “ tanya Soyeon hati-hati. Kali ini Eunhwa mengangguk pelan, sangat pelan, yang mungkin tak termasuk jenis anggukan untuk orang biasa.

Ketiganya kembali berpandangan, tak tahu harus berbuat apa. Kalau saja Eunhwa yang mereka temui sedang mengamuk, menangis, meraung, marah ataupun berteriak, mereka bisa lebih tahu apa yang akan mereka lakukan. Tapi dengan diam tak merespon seperti ini, mereka malah tak tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan. Apa rasa sakit itu terlalu dalam sampai tak ada air mata?

Atau airmatanya telah habis saking banyaknya yang keluar?

“ Mantan . . . “ Risung yang sedari tadi diam membuka suara. Dia menatap yeoja yang masih diam dihadapannya itu.

“ Kata Woohyun, yeoja itu adalah pacar pertamanya. Mereka, dia dan yeoja itu, kembali menjalin hubungan “

“ Eonje ? Eonje buteo ? “ tanya Soyeon yang baru pertama kali itu mendengarnya. Risung yang kini dipandangi Soyeon dan Minra dengan penasaran itu hanya bisa menatap pilu sahabatnya yang masih diam itu. Walaupun yeoja itu sedang terdiam, dia tahu yeoja itu juga mendengarkan ucapannya.

“ Seminggu sebelum Eunhwa mengatakan padanya “

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

 

Yeoja itu membereskan buku-buku yang berserakan dihadapannya, mengembalikannya ke tempatnya semula. Diraihnya tas yang tergeletak di atas meja itu dan melangkah keluar perpustakaan. Dia melirik jam ditangannya sekilas, sudah sore, pantas saja terasa sepi.

Dia baru mulai menuruni anak tangga di lantai dua itu saat langkahnya terhenti menyadari sosok namja yang kini berdiri diam menatap kearahnya itu. Dia membungkuk sekilas sebelum kembali berjalan, tak ingin bertemu dengan orang belakangan ini berusaha dihindarinya itu.

“ Uri . . . “

Yeoja itu terdiam, menghentikan langkahnya begitu mendengar namja itu membuka mulut bersuara.

“ Bisakah kita berdua bicara ?! “ ucap namja itu. Bukan sebuah pertanyaan, lebih tepatnya sebuah permintaan.

Yeoja itu diam. Tak bersuara ataupun bergerak. Namja itu berbalik menghadap yeoja yang kini membelakanginya itu. Dia menghela napas panjang.

“ Eunhwa-yaa “ panggil namja itu pelan, tatapannya sendu menatap punggung yeoja yang sama sekali tak mau menatapnya itu.

“ Mianhae . . . aku “

“ Wae ?! “ itu kata pertama yang dikeluarkan yeoja itu.  Satu kata yang terus-terusan ada dipikirannya sejak dia mengetahui semua kenyataan itu.

Kedua alis namja itu berkerut heran mendengar pertanyaan itu. Pikirannya mulai sibuk bekerja.

“ Wae ??? Kenapa kau begitu perhatian padaku? Kenapa kau membalas semua perhatianku? Kenapa kau selalu merespon semua sikapku? Kenapa kau bahkan begitu baik menerima pengakuanku kalau kau ternyata menyukai yeoja itu. Wae? “

“ Kau bahkan tak pernah berkata tidak padaku. Membuatku berpikir kalau kau juga menyukaiku. Kalau kau ternyata menyukai yeoja itu, lalu kenapa? Wae sunbae, wae ? “

Rentetan pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan yeoja itu membuat namja itu terdiam. Air mata menetes pelan dari mata namja itu.

“ Eunhwa-yaa “

“ Wae ?? Aku hanya ingin tahu alasan semua ini. Apa itu saja kau tak bisa menjawabnya?! “ tanya yeoja itu lagi tanpa membalikkan badannya sedikitpun. Dia menggigit bibir bawahnya pelan, menahan gemuruh di dadanya.

“ Apa kau ingin mempermainkanku? Apa kau ingin mengejekku? Apa kau . . . “

“ ANIYO !!! “ teriakan namja itu kontan menghentikan ucapan Eunhwa.

“ Johahae. Aku melakukan itu karena aku menyukaimu Shin Eunhwa “ ucap namja itu setelah terdiam beberapa saat.

Eunhwa yang mendengarnya hanya bisa meringis pelan.

“ Kau menyukaiku? “ kali ini dia berbalik, menatap langsung tepat kemata namja yang sedari dulu disukainya itu. “ Lalu bagaimana dengan yeoja itu ?! “

Namja itu terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan Eunhwa. Dia hanya diam menatap wajah yeoja yang terlihat begitu terluka itu. Matanya memang tak meneteskan air mata, tapi jelas ada luka disana. Luka yang begitu dalam.

Eunhwa terkekeh pelan menyadari kediaman namja itu.

“ Araseo. Kau sedikit menyukaiku, dan menyukai yeoja itu dengan banyak, sangat banyak. Begitu bukan ?! “ ucap Eunhwa sambil mengangguk mengerti. Dia tersenyum pelan, sangat pelan, ditatapnya namja tampan dihadapannya itu.

“ Ani. Eunhwa-yaa, bukan begitu, aku . . . “

“ Who’s first ?! “

Kedua alis namja itu kembali berkerut menerima pertanyaan lain yang diajukan yeoja itu. Kenapa begitu banyak pertanyaan membingungkan yang dilontarkannya?!

“ Kalau kau menyukai kami, lalu siapa yang duluan kau sukai ?! “ tanya Eunhwa lagi. Dia tahu, itu pertanyaan bodoh yang tak butuh jawaban. Bagaimana mungkin dia masih menanyakan hal itu saat dia tahu kalau namja itu lebih menyukai yeoja yang lain, bukan dirinya.

Dia kembali terkekeh pelan. Menyadari kebodohannya sendiri. Dengan pelan dia membungkuk pamit dan beranjak pergi meninggalkan namja yang masih tetap terdiam itu.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

 

 

“ Eunhwa-yaa “ sapaan halus namja itu ternyata cukup untuk mengagetkan Eunhwa yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri itu.

Matanya terpaku pada wajah namja yang beberapa hari belakangan ini selalu berusaha untuk dihindarinya. Walaupun dia benar-benar amat sangat merindukannya.

“ Eunhwa-yaa, aku . . . “

Tanpa banyak bicara, Eunhwa segera membereskan barang-barangnya yang berserakan di atas meja dan melangkah pergi. Dia benar-benar tak siap bertemu dengan namja ini sekarang dan entah sampai kapan.Tapi langkahnya tertahan karena namja itu berdiri menghalangi jalannya.

“ Bisakah kita bicara baik-baik?! Biarkan aku menjelaskan semuanya “ pinta namja itu memelas. Tapi bukan Eunhwa namanya kalau luluh begitu saja, dulu mungkin iya, tapi setelah semua yang terjadi nampaknya dia menjadi lebih keras sekarang.

Dia mendorong tubuh namja itu dengan keras, sehingga dia bisa bebas berlari. Dia terburu-buru melewati jalan setapak yang berbatu itu, pikirannya sekarang adalah sesegera mungkin pergi menjauh, tanpa sadar dia kehilangan keseimbangan, kakinya terantuk batu yang tajam. Tubuhnya jatuh terduduk, buku-buku yang dipegangnya serta isi tasnya jatuh berserakan begitu saja.

Dia terdiam menatap kakinya yang berdarah itu, tanpa sadar airmata yang selama ini ditahannya tiba-tiba menetes. Lama kelamaan semakin banyak dan membuatnya terisak. Sakit. Itu yang dia rasakan.

Tapi bukan karena kakinya yang berdarah itu tentu saja. Ada rasa sakit yang luar biasa pedih yang dirasakannya. Yang selama ini mati-matian ditahannya. Dia terlalu takut untuk menangis. Takut bahwa nanti dia tak bisa menghentikan tangisan itu.

“ Gwaenchana ?! “ suara halus seorang namja malah menambah isakan yeoja itu.

“ Eunhwa-yaa “

Yeoja itu masih terisak, mengeluarkan air mata yang dipendamnya selama ini. Namja itu meraih saputangan dari saku celananya dan mengusap darah yang keluar dari kaki yeoja itu.

“ Kau yang pertama “ ujar namja itu pelan. Eunhwa yang mendengar hal itu mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, ditatapnya wajah namja itu lama.

“ I knew her before you. But My heart know you first. “

Eunhwa terdiam, wajahnya kembali menunduk, tangisannya malah semakin dalam.

“ Johahae “ ujar Eunhwa disela-sela isak tangisnya. Wajah namja itu bertambah murung, ditatapnya yeoja yang masih terisak di hadapannya itu sendu.

“ Johahanikka. Aku bilang aku menyukaimu, jadi bisakah kau tak menyukainya?? “ teriakan itu keluar bersama deraian air mata yang semakin deras.

“ Aku menyukaimu, jadi tak bisakah kau hanya menyukaiku saja?! Tak bisakah kau menyukaiku dan tak menyukainya ?! Aku menyukaimu sunbae, aku hanya menyukaimu “

Terdengar rasa sakit yang dalam dari pengakuan itu. Namja itu lagi-lagi terdiam, air matanya menetes perlahan. Dia sama sekali tak menyangka bahwa yeoja dihadapannya ini akan seterluka ini.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

 

“ Gwaenchana ?! “ tanya yeoja berkacamata itu mengambil tempat diantara ketiga sahabatnya yang terlihat asyik bersantai di sebuah kafe itu. Orang yang ditanyai yeoja itu hanya tersenyum dan mengangguk sekilas.

“ Yaa Shin Risung, bagaimana mungkin selama hampir 3 bulan ini selalu saja itu kata pertama yang kau tanyakan pada Eunhwa?! “ bentak yeoja sedari tadi asyik menikmati eskrimnya itu.

Yeoja bernama Risung yang dibentak itu melepaskan kacamata yang dipakainya dan dengan sedikit kesal menoleh ke arah sahabatnya yang bawel itu.

“ Wae??! Memangnya salah kalau aku menanyakan keadaan sahabatku terlebih dahulu? “ tanya Risung sambil mencomoti kentang goreng yang ada dihadapan mereka itu.

“ Tapi, kenapa Eunhwa… “

“ Gwaenchana, Choi Soyeon?! “ kali ini Minra yang tadi asyik dengan handphone pun ikut bicara.

“ Apa kau mau mulai sekarang aku yang menanyakan hal itu padamu?! “ tanyanya lagi yang membuat yeoja yang paling muda diantara mereka itu cemberut kesal. Hal itu spontan membuat mereka bertiga termasuk yeoja yang sedari tadi diam itu tertawa.

“ Risung-ah “

Sapaan itu spontan menghentikan tawa sahabat itu. Keempatnya menoleh ke asal suara itu.

“ Yaa~ Nam Woohyun, apa yang kau lakukan disini?! “ tanya Risung begitu menyadari kalau orang yang memanggilnya ternyata namja ini.

“ Aku datang berlibur ke tempat Sunggu hyung “

“ Kau sendirian?! “ tanya Minra yang juga mengenal namja itu.

“ Ani, aku bersama… “

“ Woohyun-ah, kenapa kau berdiri disitu, aku menyuruhmu mencari tempat duduk, nanti kita… “ ucapan namja itu terpotong begitu saja saat menyadari orang yang kini ada dihadapan temann ya itu.

“ Eunhwa-yaa . . . “

Tawa yang tadi sempat menghiasi wajah yeoja itu perlahan hilang. Dahinya berkerut gugup, sama sekali tak menyangka kalau takdir yang selama ini dipercayainya kini mempermainkannya lagi. Bagaimana mungkin dia bisa bertemu lagi dengan namja ini setelah selama beberapa bulan belakangan ini berusaha agar tak bertemu dengannya.

Ketiga sahabatnya serta namja yang mulai menyadari situasi tak menyenangkan itu terlihat gelisah. Soyeon yang duluan berdiri dan menarik tangan Eunhwa mengajaknya pergi. Sementara Eunhwa masih tetap duduk diam, dipandanginya wajah ketiga sahabatnya itu seakan mengatakan tak apa-apa. Dengan berat hati keempat orang itu berdiri meninggalkan dua orang yang terlihat kaku itu sendirian.

Namja itu menatap wajah Eunhwa yang berusaha tersenyum itu sesaat, kemudian mengambil tempat duduk dihadapannya. Ada kediaman yang menghinggapi mereka selama beberapa saat sebelum akhirnya namja itu mulai membuka suaranya.

“ Unmyeongida “ ujarnya sambil tersenyum simpul. Eunhwa hanya bisa membalas itu dengan sebuah senyuman, tak tahu harus berkata apa.

Ya, sepertinya memang benar-benar takdir mereka bisa bertemu disini. Karena selama ini namja itu mati-matian mencoba menghubungi dan mencari cara menghubungi yeoja dihadapannya itu, tapi bumi seolah-olah menyembunyikannya dan tak mengizinkan mereka bertemu. Yah, kalau takdir menuliskan mereka bertemu kali ini, mungkin ini memang sudah waktunya untuk mereka agar dapat bicara.

“ Gwaenchana?! “ Eunhwa hanya bisa mengangguk sekali menjawab pertanyaan itu. Yah, dia sangat berharap semoga dia tak apa-apa.

“ Kau?! “ namja itu tertegun sejenak mendengar ucapan itu. Bukan karena nada ucapan itu yang terdengar aneh, tapi karena tak ada lagi panggilan ‘sunbae’ yang biasa di dengarnya. Panggilan yang benar-benar membuatnya merindukan yeoja ini.

Namja itu mengangguk, berusaha mengendalikan perasaannya sendiri.

“ Minzy ?! “ namja itu lagi-lagi tertegun mendengar pertanyaan yeoja ini, namun dia hanya bisa mengangguk mengatakan bahwa Minzy yang ditanyakannya juga baik-baik saja.

“ Aku rasa aku harus mengatakannya “

“ Andwae “ potong Eunhwa seketika. Begitu lama memperhatikan dan menyukai namja ini dia jadi tahu maksud ucapannya barusan.

“ Apa tak cukup aku saja yang terluka? Dia tak perlu ikut-ikutan merasa sakit “

“ Eunhwa-yaa “

Yeoja itu tersenyum tapi matanya mulai berkaca-kaca, nampaknya pertahanannya akan bobol kembali di hadapan namja ini.

“ Dia tak tahu apa-apa, jadi kumohon, jangan biarkan dia terluka. Jangan pernah biarkan orang yang kau sayangi terluka “

Air mata mulai menetes membasahi wajah Eunhwa, diusapnya pelan airmata itu, tak ingin membuatnya jadi terlihat lemah dihadapan namja itu.

“ Tapi kau… “

“ Gwaenchana. Bukankah kau lihat bahwa aku baik-baik saja sekarang?! Aku takut dia akan lebih terluka dariku saat mengetahui hal ini. Jadi maukah kau berjanji untuk tak mengatakannya?! “ Eunhwa melepaskan genggaman tangan namja itu, dia takut dia tak cukup kuat untuk menyembunyikan perasaannya.

“ Jangan pernah berniat sedikitpun meninggalkannya demi aku. Kurasa mengetahui bahwa kau pernah menyukaiku saja bagiku sudah cukup. “

Yeoja itu menatap airmata yang kini menetes di wajah namja itu, dia mengulurkan tangannya dan menghapusnya.

“ Uljima babo-yaa,, nan jeongmal gwaenchana “

Yeoja itu tersenyum, kali ini senyuman tulus untuk orang yang benar-benar disayanginya itu. Dia menghapus airmata yang masih mengalir dari matanya itu dan kembali tersenyum untuk namja dihadapannya. Dia tak mau hal terakhir yang diingat namja itu darinya adalah saat dia menangis.

“ Haengbokhae “ ujar Eunhwa sebelum berdiri meninggalkan namja yang kini terdiam sambil menangis itu. Ditatapnya yeoja yang pergi itu dalam diam. Dipandanginya sampai yeoja itu menghilang dari pandangannya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>.

 

December 29, 2011

 

Huhh. . .

Aku benar-benar menghabiskan waktu selama ini ternyata untuk terus-terusan merasa sakit. Aigoo . . .

Eunhwa babo,.,

Bahkan setelah merasa sakit seperti ini aku bahkan tak bisa membencinya. Tak bisa menyalahkannya. Awalnya aku terus-terusan berpikir tentang siapa yang salah. Dia yang terlalu egois tak mau melepaskan dua orang yang dia sayangi. Yeoja itu yang terlalu egois karena diantara sekian banyak namja di dunia ini kenapa dia harus kembali pada seseorang yang menjadi masa lalunya. Atau aku yang salah karena ternyata memberikan cinta pertamaku pada orang yang salah.

Tapi kenyataannya tak ada yang salah. Dia tak salah. Yeoja itu juga tak salah. Perasaanku juga tak salah. Karena sesungguhnya tak pernah ada yang salah dalam cinta.Yang salah hanya waktu dan keadaan yang membuat semuanya terasa salah.

Dan keputusanku untuk mengalah juga bukanlah pilihan yang salah. Yah, awalnya aku memang sangat merasa kesal dengan diriku. Kenapa aku tak berjuang untuk mendapatkan orang yang kusayangi. Apa perasaanku tak cukup besar untuk terus memperjuangkannya.

Tapi, saat aku berpikir dari sudut pandang yang lain, aku sadar, aku jadi memikirkan bagaimana perasaan yeoja itu. Dia tak tahu apa-apa, jadi dia baik-baik saja. Apa jadinya nanti kalau dia cerita nanti. Dia pasti akan sakit, akan terluka. Walaupun aku tak begitu mengenalnya, tapi dia juga seorang wanita. Perasaan sakit yang kurasakan sekarang sudah cukup perih sampai rasa-rasanya aku ingin mati saja. Hhaha, lebay ya?! Tapi memang benar-benar sakit. Jadi bagaimana bisa aku membiarkan wanita lain ikut merasakannya?! Aku takkan setega itu.

Aku tahu, aku akan butuh waktu lama untuk menyembuhkan rasa sakit ini. Dan akan butuh waktu lebih lama lagi untuk melupakan namja itu. Ahhh,, aku benar-benar merindukannya sekarang. Merindukannya sampai aku rasa aku akan jadi gila. Apa kau pernah merasa seperti itu?! Aku melepaskannya pergi seperti orang bodoh. Orang bodoh yang tak memikirkan bagaimana jadinya perasaanku nanti setelah dia pergi. Tapi aku bisa apalagi coba?!

Mulai sekarang aku harus belajar melupakannya.

I’ll have to get used to the days without you

And tomorrow will I will feel slightly

It will slowly fade and be forgotten

 

Even if it’s painful, I’ll pretend it’s nothing.

Even if I’m tearing, there is a way to keep it in

Even if my heart is scarred, there is a way to still peacefully smile

Even if I want to see you again, we can’t see each other anymore

Having to bear it no matter how painful

 

To me love is something so painful

But even if it hurts, I have to bear with

And just forget about it like that.

 

< THE END >

 


 

 

 

5 thoughts on “Painful Hope [Fanfiction]

    • ff-nya gak aneh kan?!
      eon bikinnya ngerasa aneh soalnya :p

      ff-nya ngegantung gak?
      soalnya baca komen d fb keqnya kurang ya klo gak dibeberin perasaan si ho baby,

      ummmm . . . .

  1. Pingback: Annyeonghaseyo… A-sin Imnida ^^ [Share] « I am Hottest ♔ Queen's

  2. lagiiiiiiiii…………………..
    berapa kali dibaca teteup aja kasian angelnya.
    huhuhu,,,,, daebak!!
    queen jjang. kalo bikin ff romance kok aq ga pernah kena feelnya ya *emang ga bakat*
    lagi dong lagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s