Is it My Fault? [Fanfiction]

Title            : Is it My Fault?!

Author       : Queen Risung

Main Cast : Park Minra

                        Key SHINee

Genre         : Romance

##################################################

>>>>>>>>>>>>>

“ Kibum-ah, lihat masakanmu sudah gosong “ aku terkejut mendengar suara itu dan menoleh. Kudapati Onew hyung sedang berusaha memindahkan panci panas yang berisi masakanku dan mematikan kompor yang masih menyala.

“ Yaa~ kau mau membunuh kami dengan masakan gosong ini ?? Atau kau mau membuat rumah ini kebakaran huhh?! “  sindir Jonghyun hyung sambil melotot ke arahku. Aku menghela nafas pelan, lagi-lagi aku melakukan kesalahan.

“ Hyung, akhir-akhir ini kau benar-benar aneh “ ujar Taemin sambil mengaduk-aduk makanan gosong itu dengan sendok kayu. “ Sudah tak bisa dimakan lagi “ tambahnya sambil cemberut.

“ Mianhae, biar aku masak lagi. “ ujarku sambil mulai mengambil bahan makanan baru dari lemari pendingin.

“ Andwae, kau istirahat saja. Minho, kali ini kau dan Taemin yang menyiapkan makan siang “ perintah Onew hyung sambil menyeretku keluar dapur.

“ Yaa~ kenapa jadi aku yang harus masak hyung ?! “ protes Minho keberatan.

“ Karena aku sedang tak ingin memasak “ ujar Onew hyung polos sambil menyeretku keluar dapur. Kudengar Minho mengomel kesal atas perintah Onew hyung yang semena-mena itu. Aku terkekeh pelan kemudian berjalan malas ke arah kamarku.

“ Kibum-ah, kau mau kemana ? “ lagi-lagi Onew hyung bertanya dengan nada cemas.

“ Bukankah kau yang menyuruhku istirahat hyung?! “ ujarku dengan wajah malas menatapnya. Dia terdiam sesaat kemudian mulai mengangguk-angguk. Aku berbalik, segera mempercepat langkah menuju kamarku, jangan sampai dia mulai mengeluarkan ‘Onew Sangtae’-nya sekarang, aku sedang tak berminat melayaninya.

Aku membuka pintu kamarku, masuk ke dalam dan berbalik mengunci pintunya. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur dengan seprai pink itu, terdiam memandangi langit-langit kamarku. Untuk yang kesekian kalinya aku memikirkan yeoja itu lagi. Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan dia? Kenapa hampir 2 minggu belakangan ini sikapnya berubah drastis? Padahal saat pertama kali mengenalnya lima bulan lalu, dia benar-benar orang yang berbeda. Sekarang sikapnya benar-benar berubah 180o, apa yang menyebabkan dia menjadi begitu dingin dan pendiam seperti ini? Menguap kemana sikap ramah dan cerianya selama ini? Pergi kemana sosok yang membuat hari-hariku bersemangat itu?

Ini bukan yang pertama kalinya aku melihat dia terdiam dengan tatapan kosong seperti tadi. Sebenarnya apa yang sudah terjadi padanya, apa yang telah dialami yeoja itu. Dan kenapa pula aku menjadi begitu mengkhawatirkannya seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi denganku. Apa benar kata Jonghyun hyung, kalau aku sudah mulai menyukainya? Aniyo, aku bukan tipe orang yang bisa menyukai seorang yeoja dalam tempo sesingkat ini.

Tapi, kalau aku tak menyukainya kenapa aku merasa begitu cemas ??

Arrrggghhh . . . .  menyebalkan. Mengapa begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepalaku?? Sementara tak ada satu pun yang aku tahu jawabannya??

********

Aku menyeruput jus alpukat di hadapanku lagi. Kuaduk-aduk isi gelasnya sekedar mencari hiburan. Kuedarkan pandanganku mencari sosok yeoja itu, tapi tetap tak ada. Padahal sudah hampir dua jam aku duduk diam disini sambil menunggunya datang. Biasanya pada jam-jam begini, dia ada di kafe ini melakukan kerja part-time nya. Tapi sampai sekarang dia tak kuncung muncul. Kemana dia, apa dia sakit? Apa dia tak enak badan? Apa dia terluka? Aisshh . . .  aku benar-benar tak suka keadaan serba mengkhawatirkan seperti ini.

Saat mencari-cari sosoknya, pandanganku tertuju pada seorang yeoja yang baru saja memasuki kafe ini. Sepertinya aku sering melihatnya, dimana ya?! Aku memutar otakku mencoba mengingatnya, tapi tetap tak bisa. Tiba-tiba seorang namja muncul di sebelahnya, mereka melihat-lihat sekitar mencari tempat duduk. Oh tidak, namja itu, apa yang dia lakukan disini. Tidak, dia tak boleh melihatku ada disini. Gawat !

“ Kibum-ah “  aigoo,, sepertinya aku terlambat. Dia sempat melihat keberadaanku rupanya, apa yang harus kukatakan padanya.

“ Apa yang kau lakukan disini ?! “ tanyanya lagi, aku menurunkan buku menu yang menutupi wajahku pelan-pelan dan tersenyum menatapnya.

“ Oh, hyung “

Dia memandangku heran sesaat kemudian mengambil tempat di hadapanku. Yeoja yang wajahnya agak familiar itu ikut-ikutan duduk di sebelahnya.

“ Kau sedang menunggu seseorang Kibum-ah ?! “ tanya Onew hyung lagi, sepertinya dia masih penasaran mengapa aku duduk sendirian disini, karena ini sama sekali bukan kebiasaanku.

“ A.. niyo “ sangkalku lagi. Aku tak ingin dia mulai bertanya macam-macam. Dia mengangkat kedua alis tebalnya sesaat kemudian mengangguk paham.

“ Oh ya, kenalkan ini calon kakak iparmu, Shin Ri Sung. Chagiya, ini namdongsaeng-ku yang sering kuceritakan itu, Kibum, tapi kau bisa memanggilnya Key “ aku menyambut uluran tangan yeoja yang wajahnya sedang merona itu. Jadi ini rupanya yeoja yang dengan ikhlas hati mau menerima Onew hyung? Wah, nampaknya dia punya kesabaran ekstra menghadapi sikap ‘aneh’ hyung-ku yang satu ini.

“ Namamu Key ? “ tanya yeoja di hadapanku itu pelan. Aku mengernyit heran kemudian mengangguk, bukankah Onew hyung baru saja memperkenalkan kami? Apa pendengarannya sedikit bermasalah ?

Wajahnya yang sedikit bingung tadi tiba-tiba terlihat senang. Matanya berbinar menatapku.

“ Apa kau mengenal Min Ra ?? “ sambungnya lagi. Minra? Sepertinya nama itu cukup familiar di telingaku.

“ Ne, Minra. Park Min Ra. Kalau tak salah dia seniormu di kelas lukis. Apa kau mengenalnya? Apa benar kalian berteman? “

Dadaku tiba-tiba terasa sesak, jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Ya, aku ingat yeoja ini. Aku ingat. Dia yeoja yang sering bersama Minra. Yeoja ini yang selalu mendatangi Minra kalau kami sedang tak ada kelas. Keringat mengucur dari pelipisku.

Sepertinya aku punya kesempatan sekarang. Aku punya peluang untuk menanyakan keadaan Minra pada calon kakak iparku ini. Hhahaha,, sepertinya tak salah juga yeoja ini memilih Onew hyung, setidaknya aku punya sumber informasi yang dekat dengan Minra. Aku mengembangkan senyumku dan mengangguk antusias padanya.

“ Ne, kami berteman. Beberapa kali dia pernah mengajariku teknik-teknik melukis yang kurang aku kuasai. Apa kau temannya, noona?? “

Yeoja itu mengangguk senang. Senyuman lebar terukir di wajahnya.

“ Ne, kami berteman sejak dulu. Dia pernah bercerita padaku tentang kau. Katanya ada juniornya di kelas lukis yang begitu bawel dan sangat menyukai warna pink. Lagipula, namamu sama seperti Kibum oppa… uppss “

Yeoja itu menghentikan ucapannya yang sedang mengalir lancar itu secara tiba-tiba, raut wajahnya seketika berubah.

“ Waeyo noona?! Namaku sama seperti siapa ?” tanyaku penasaran. Kenapa tiba-tiba dia berhenti? Apa dia mengucapkan sesuatu yang tak seharusnya dia ucapkan?

“ Ah, aniyo. Aku terlalu banyak bicara. Mianhamnida “

Dia melirik Onew hyung yang dari tadi hanya diam memandang kami berdua bergantian. Kesunyian menghinggapi kami bertiga selama beberapa saat. Bagaimana ini, aku harus mencari cara agar dia bisa menceritakan padaku apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Minra. Tapi, bagaimana yaa?!

“ Emm, Noona, apa kau tau dimana Minra sekarang? Ada beberapa tugas yang ingin kutanyakan padanya, tapi aku susah sekali menemukannya di kampus. Nomornya juga sering tak aktif “ aku memperlihatkan wajah memelasku. Ayolah, beritahu aku dia kenapa. Yeoja itu terlihat berpikir sejenak.

“ Umm, molla, aku juga belakangan susah menghubunginya kalau bukan dia yang duluan menghubungiku. Dia memang sedang ada sedikit masalah saat ini “

“ Masalah? Masalah apa? “ tanpa sadar suaraku sedikit meninggi saat mendengar memang terjadi sesuatu dengan Minra. Aisshh . . .

“ Ah, aniyo, dia hanya . . . “

Aku tak mendengar ucapan yeoja itu selanjutnya, pandanganku terpaku pada sosok yang baru saja memasuki café. Dia disana, yeoja yang selama ini membuatku khawatir baru saja masuk ke dalam café. Dengan segera aku berdiri, tanpa menghiraukan Onew hyung serta Risung noona yang heran melihatku, aku menghampiri yeoja itu. Dan dengan sigap menarik tangannya, menyeretnya keluar dari café tadi. Dia diam saja mengikutiku, mungkin terlalu kaget dengan sikapku. Tapi tiba-tiba dia berhenti dan menghentakkan tangannya sehingga lepas dari genggamanku.

“ Yaa~ apa yang kau lakukan? Aku harus kerja, sekarang aku sudah sangat terlambat “ dia berbalik hendak pergi, namun lagi-lagi aku menahan tangannya.

“ Minra, aku ingin bicara “

“ Aniyo, tak ada yang perlu dibicarakan Key-ssi “ dia melepaskan genggamanku lagi dan pergi. Aku berteriak memanggil namanya berkali-kali tapi dia tak menghiraukannya. Yaa~ aku semakin penasaran masalah apa yang dihadapinya sampai dia jadi dingin seperti ini.  Tadi saja dia memanggilku Key, bukan Kibum seperti biasanya. Bahkan ada embel-embel –ssi di belakangnya. Apa sekarang dia bahkan menganggapku orang asing ?!

********

Aku melirik jam di pergelangan tanganku, jam 9:30 malam. Kemana dia sampai jam begini belum pulang? Padahal sudah hampir 4 jam aku berdiri di depan pintu apartemennya tapi dia tak kunjung datang. Kata pemilik apartemen sebelah, tadi siang Minra keluar dan sampai sekarang belum kembali. Apa yang dia lakukan sampai seharian belum pulang. Aku kembali bersandar di depan pintu memainkan fliptop hp di genggamanku. Benar-benar membosankan.

“ Silyehamnida “

Aku mendongak mendapati seorang yeoja menatap heran ke arahku, di tangannya tergenggam kunci apartemen. Apa dia ingin masuk ke apartemennya Minra?

“ Kau … “

Aku menoleh mendapati Minra yang berjalan mendekat, sepertinya dia kaget melihat aku yang berdiri di depan apartemennya.

“ Apa yang kau lakukan disini?! “ tanyanya dengan nada kesal. Hey, apa dia marah padaku? Memangnya aku salah apa.

“ Bo,, boleh aku bicara denganmu?! “  entah kenapa aku sedikit takut melihat ekspresi dinginnya itu. Auranya sama sekali berbeda dengan Minra yang dulu.

“ Bicara saja sekarang “ aku terdiam, canggung sendiri menghadapi ucapannya yang tanpa basa basi sedikitpun.

“ Ah, eonnie, aku masuk duluan ya “ yeoja yang tadi bersamanya pamit masuk duluan ke apartemen. Mungkin dia jadi ikut-ikutan canggung berada diantara kami berdua.

“ Ayo cepat bicara “

Aku menghela nafas dan menghembuskannya lagi, menggaruk-garuk bagian belakang kepalaku yang tak gatal. Aisshh,, kenapa rasanya jadi aneh seperti ini sih.

“ Kau, apa kau ada masalah ? “

Lagi-lagi dia diam, menatapku tajam. Yaa~ tatapannya seakan ingin menelanku bulat-bulat.

“ Bukan urusanmu “

Ucapan singkatnya membuat hatiku terasa agak sakit.

“ Maksudku, kalau, kalau kau memang punya masalah kau bisa cerita padaku. Siapa tahu saja aku bisa membantumu. Mungkin … “

“ Sudah kubilang bukan urusanmu, jadi tak perlu repot-repot ikut campur. “ ujarnya sambil berjalan ke arah pintu apartemennya, mengakhiri pembicaraan.

“ Minra-ya “

Aku berteriak memanggil namanya. Dia berhenti dan berbalik.

“ Berhenti bersikap seoah-olah kau dekat denganku. Dan juga berhenti memanggil namaku seenaknya. Walau bagaimanapun aku adalah seniormu, jadi panggil aku Noona. “

Brukk . . . dia membanting pintu apartemennya hingga tertutup, meninggalkan aku yang terpaku dengan sikap dan ucapannya barusan. Hebat Kibum, hebat. Lihat apa yang kau lakukan, pertama dia mengacuhkanmu, lalu memanggilmu Key, dan sekarang dia malah melarangmu memanggil namanya tanpa sebutan noona. Padahal sejak awal bertemu dia tak pernah keberatan kau memanggilnya Minra, tanpa embel-embel apapun. Tapi sekarang ?!

Hhahaha, nampaknya sekarang dia benar-benar menganggapmu bukan siapa-siapa lagi di hidupnya. How poor I am . . .

********

“ Hyung, lihat aku mendapatkan resep ayam yang ada di tv tadi. Onew hyung pasti menyukainya. Kita bisa memasak ini saat ulang tahunnya minggu depan “ ucapan Taemin membuyarkan lamunanku. Aku melirik ke arahnya yang sedang asyik mengutak-atik laptop. Nampaknya dia antusias sekali untuk memasakkan makanan kesukaan Onew hyung, ayam. Memangnya tak bisa masak yang lain saja ya, bukankah orang itu hampir setiap hari makan ayam, memangnya dia tak bosan apa.

Aku mendengus kesal dan menutupi wajahku dengan bantal kuning berbentuk spongebob. Lupakan pikiran sejenak tentang si maniak ayam, biarkan aku kembali memikirkan yeoja itu. Sekarang ini sudah hampir 2 minggu berlalu sejak insiden di apartemen Minra itu berlalu. Sejak itu, walaupun aku berusaha mendekatinya, mengajaknya bicara, tapi dia tetap cuek, seakan menganggapku tak ada. Memangnya apa salahku? Aku merasa tak berbuat sesuatu yang menyakiti hatinya, jadi kenapa hanya aku yang diabaikan? Benar-benar tak bisa diterima.

Tok tok tok. . . suara ketukan di pintu membuyarkan semua pikiranku tentang Minra. Kepala Jonghyun hyung muncul dari balik pintu.

“ Kibum-ah, ada yang mencarimu “

“ Nugueyo ? “ tanyaku dari balik bantal.

“ Molla. Seorang yeoja, neomu yeppo. Apa kau punya yeojachingu baru dan tak mengenalkannya pada kami? “

Aku segera bangkit dari tempat tidur, memandang ke arah Jonghyun hyung namun dia sudah berbalik pergi. Yeoja? Nugu? Setahuku aku tak punya banyak teman yeoja, lagipula Jonghyun hyung pasti mengenal mereka, dia kan cukup dekat dengan yeoja. Dengan rasa penasaran aku melangkah keluar kamar, menuju ruang tamu tempat tamuku berada. Disana Jonghyun hyung sedang duduk manis menemani yeoja itu bicara. Aku menatap yeoja itu, sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ??

Aku segera mendekati tamuku itu dan mengambil tempat duduk di hadapannya.

“ Silyehamnida, apa kau mencariku ?? “

Ucapanku spontan membuat yeoja itu dan Jonghyun hyung menoleh. Jonghyun hyung malah terlihat kesal menatapku, yaa~~ ini kan tamuku, kenapa malah dia yang merasa terganggu. Lagipula tak biasanya dia duduk diam disini, biasanya kan dia akan asyik sendiri di kamarnya. Aneh.

“ Ah,, Mianhamnida, Jeoneun Kim So Yeon imnida. Bangapsumnida. “

Yeoja itu memperkenalkan dirinya sendiri. Kim So Yeon? Sepertinya aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.

“ Kim Kibum imnida. Tapi kau boleh memanggilku Key. “

“ Eh, maaf kalau aku mengganggumu. Risung eonnie yang memberi tahu alamatmu disini. Apa kau mengenalnya ? “

Risung noona? Si ratu ayam itu rupanya. Apa hubungan yeoja ini dengan noona, lagipula untuk apa dia kemari.

“ Ah, aku, aku yang meminta alamatmu. Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Penting. “ dia bicara sambil melirik Jonghyun hyung. Yang dilirik malah memamerkan senyumnya tak sadar kalau yeoja ini merasa resah dengan kehadirannya.

“ Gwaenchasumnida. Tak ada yang perlu disembunyikan dari orang  ini. Bicaralah “

Ujarku meyakinkannya. Memangnya ada pembicaraan penting apa sampai yeoja ini merasa segan kalau ada Si Bling-bling ini.

“ Sebelumnya, apa kau tak mengingatku ? “  kedua alisku saling bertaut, mencoba mengingat-ingat dimana aku pernah melihat yeoja ini. Tapi aku menggeleng, lupa.

“ Aku yang bersama Minra eonnie waktu itu. Saat kau menunggu Minra eonnie di depan apartemennya. Apa kau ingat ? “

Aku mengangguk mengiyakan. Aha, aku ingat sekarang. Yayayaya, dia memang yeoja yang dulu bersama Minra saat aku datang menemuinya di apartemennya. Tapi, apa yang dia lakukan disini? Apa Minra yang menyuruhnya kemari menemuiku?

“ Umm, sebelumnya aku ingin minta maaf atas sikap kasar ataupun ucapan Minra eonnie yang agak aneh padamu belakangan ini. Aku tahu dia sebenarnya tak bermaksud seperti itu. Dia hanya . . . “

“ Changkaman… Sebelumnya, bisakah kau jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi dengan Minra? Aku tak tahu kenapa tiba-tiba dia jadi aneh. Sikapnya jadi dingin, pendiam, cuek dan terlebih lagi dia benar-benar mengabaikanku. Menganggapku seperti orang asing. Waeyo?? “

Aku menyerangnya dengan semua pertanyaan yang selama ini berputar-putar di kepalaku. Aku juga tak peduli dengan tatapan Jonghyun hyung yang penuh tanya padaku. Aku hanya ingin yeoja ini menjawab dan menjelaskan semuanya padaku. Sejelas-jelasnya.

“ Ne, biar aku jelaskan dulu. Aku punya seorang oppa, namanya sama sepertimu, Kim Kibum. Dia dan Minra eonnie. . . “

********

Aku kembali menuangkan air hingga penuh ke dalam gelasku dan meneguknya lagi sampai habis. Setidaknya air dingin ini bisa sedikit menyejukkan hatiku yang dari tadi berkobar menahan segala macam emosi. Yeoja yang bernama Kim So Yeon itu baru saja pulang diantar Jonghyun hyung, sebelumnya dia sempat menceritakan masalah yang membuat Minra berubah padaku. Mendengar hal itu, aku tak tahu apa yang seharusnya kulakukan. Segala macam bayangan dan ingatan tentang hal itu bergantian mengisi otakku. Oh God, eottokhae??

“ Kibum-ah, aku pergi dulu ya. Kalau Onew hyung atau yang lainnya menanyakanku, katakan kalau aku ada janji dengan Eun Hwa. Arasseo ? “ ujar Minho sambil mulai memakai sepatunya. Aku terpaku sesaat menatapnya. Detik berikutnya aku segera berlari ke arah pintu, menyambar mantel yang ada di tempat gantungan, dan segera keluar meninggalkan Minho yang masih berkutat dengan sepatunya. Aku tahu, satu-satunya hal yang harus kulakukan adalah menemui Minra dan bicara dengannya.

Aku menyetop taksi pertama yang kutemui dan menyuruh supir taksi itu bergegas ke alamat yang kutuju. So yeon tadi sempat menyebutkan tempat yang sering dikunjungi Minra akhir-akhir ini. Begitu sampai, aku bergegas turun dan mulai memasuki area pekuburan umum itu. Kuedarkan pandanganku ke seluruh tempat mencari keberadaan yeoja yang selalu membuat hatiku tak tenang.

Disana, diujung sebelah kanan, aku melihatnya sedang berdiri menghadap sebuah makam yang masih tampak baru. Makam itu bersih dan dipenuhi banyak karangan bunga. Aku berjalan mendekatinya, berdiri diam di sampingnya. Awalnya dia tak sadar dengan keberadaanku, namun saat dia menoleh, sepertinya dia agak kaget melihatku. Dia menatapku sejenak kemudian beralih menatap makam itu lagi. Di atas makam itu tertera nama yang sama dengan namaku, Kim Ki Bum. Kami tetap berdiri diam disitu selama beberapa saat. Keadaan sekitar benar-benar terdengar sunyi.

“ Jadi ini, orang yang telah membuatmu berubah jadi seperti sekarang ?? “

Aku mulai membuka suara, tak tahan hanya berdiri diam disini. Sementara dia tetap bungkam, sama sekali tak meresponku.

“ Huhh, hanya gara-gara ada orang dekatmu yang meninggal lalu kau berubah jadi tak mau bergaul lagi dengan siapa pun. Bagaimana kalau semua orang di sekitarmu meninggal? Apa kau juga akan ikut-ikutan menyusul mereka? “ aku setengah mengomel mengatakannya, masih berusaha menahan emosiku.

Dia menatapku tajam, aku menunggu dia balas memarahiku, memakiku, memukulku kalau perlu, itu akan jauh lebih baik.

“ Aku sedang tak ingin berdebat “  lagi-lagi dia mengelak, kembali memperhatikan makam bisu dihadapannya. Arrgghh… yeoja ini benar-benar.

“ Yaa~~ Park Min Ra, sadarlah ! Sampai kapan kau akan terus-terusan seperti ini. Berhentilah bersikap kekanak-kanakan dan terimalah kenyataannya, namja ini telah mati. Dan walaupun seumur hidupmu kau terus-terusan ada disini dia tak mungkin hidup kembali. “

Aku semakin kesal dengan sikapnya yang malah mendiamkanku. Aku tak suka.

“ Pergilah ! Kau tak ada hubungannya dengan semua ini “

Hey, setelah mendiamkanku, dia sekarang malah mengusirku.

“ Kau tahu, kau membuatku benar-benar ingin menangis dan tertawa di saat bersamaan. Apa kau lupa atau berlagak tak tahu!? Kau lupa bagaimana kau mengacuhkanku sejak namja ini meninggal? Kau tak ingat bagaimana kau sama sekali tak mengindahkan kehadiranku di sekitarmu? Mengabaikan telpon serta sms penuh kecemasan yang mengkhawatirkanmu? “

“ Aku tanya apa salahku sehingga kau bersikap dingin padaku? Kenapa kau marah aku memanggilmu Minra tanpa sebutan noona, bukankah dulu kau setuju-setuju saja saat aku melakukannya?? Kenapa kau juga memanggilku Key sekarang? Bukankah dulu kau memanggilku Kibum? Bukankah kau bilang kau senang memanggilku dengan nama itu? Kenapa?? “

Aku menghela nafasku yang menderu. Aku kini berteriak dihadapannya, benar-benar marah, tak bisa menahan emosiku lagi.

“ Apa karena nama namja ini juga Kibum? Apa kau senang karena saat kau memanggilku kau seperti memanggilnya? Lalu karena sekarang dia sudah mati lalu kau tak mau memanggilku Kibum lagi? Apa itu membuat kau mengingatnya? Lalu, apa yang harus kulakukan agar kau berhenti mengacuhkanku?? “

“ Apa aku harus mengganti namaku sehingga kau tak perlu mengingatnya setiap memanggilku ? Apa karena namja ini sudah tak ada, maka semua orang yang bernama Kim Kibum di dunia ini harus mengganti namanya agar kau tak sedih? Apa itu yang kau mau? Kenapa kau tiba-tiba jadi egois seperti ini hanya karena namja ini? “

Wajah dan telingaku terasa panas. Keringat mengucur membasahi wajah dan pakaianku, padahal udara disekitarku cukup dingin.

“ Apa? Memangnya kenapa kalau kau mencintainya? Apa kau juga mau menyusulnya? Apa saat orang yang kita cintai tiba-tiba menghilang, kita juga harus ikut hilang bersamanya? Bukankah masih ada cinta kita yang tersisa untuknya? Tak cukup kuatkah rasa cinta itu untuk membuatmu bertahan hidup? Tak cukup banyakkah kenangan dari cinta itu yang membuatmu bisa merasakan kehadirannya walaupun dia sudah tak ada ? “

“ Bukankah kau masih bisa memberikan rasa cinta itu untuk orang-orang lain disekitarmu yang cukup peduli padamu? Apa mereka tak cukup pantas untuk menerima cinta itu? Sampai kapan kau mau seperti ini, huhh?? Apa kau pikir namja ini senang melihatmu menderita seperti ini? Apa kau pikir dia bahagia meninggalkanmu yang berduka seperti ini?? “

Aku menatapnya lagi. Kali ini dia diam, air mata mulai menghiasi wajahnya. Ingin sekali aku mendekat dan memeluknya. Tapi aku tahu, dia sekarang hanya butuh sendiri. Kalau dia sadar, seharusnya dia mulai merenungkan kata-kataku. Aku membuka mantel coklat yang kupakai, menyampirkannya di bahunya dan berjalan pergi. Aku tahu, mungkin setelah ini dia menolak bertemu denganku. Tapi setidaknya, aku sudah tahu penyebab masalahnya. Setidaknya aku sudah bicara dengannya. Aku tahu, ucapanku tadi memang sedikit kasar dan berlebihan. Tapi aku hanya tak tega melihatnya terus-terusan bersedih karena kepergian namja itu.

Toh, walaupun aku tak bisa lagi menemuinya, aku masih bisa mengetahui kabarnya. Aku bisa meminta Risung noona dan Soyeon menjaganya untukku. Kurasa itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

********

“ Kibum-ah, ayo bangun waktunya makan “

Terdengar suara Onew hyung, dia menguncang-guncang badanku dengan kuat. Aku menyampirkan selimut yang menutupi wajahku dan berbalik menghadapnya.

“ Aku belum lapar hyung. Kalian makan saja duluan, nanti aku menyusul “ ujarku sambil kembali menyelimuti tubuhku. Tapi Onew hyung dengan sigap menarik selimut dan bantalku.

“ Aisshh,, aku tahu aku terlalu sibuk belakangan ini sehingga sama sekali tak tahu apa yang sebenarnya terjadi denganmu. Tapi kata yang lain kau jadi aneh, uring-uringan tak jelas bahkan kau malas makan. Berhentilah bersikap konyol seperti itu. “

Ujarnya terlihat serius. Aku berdecak kesal menatapnya, masih enggan untuk bangun.

“ Hyung, aku sedang malas. Aku janji, nanti aku . . .”

“ Yaa~~ Kim Ki Bum !!! Kau benar-benar mau membuatku marah huhh?! Segera bangun dan ikut makan siang bersama kami, sebelum kau menyesal “

Wajahnya memerah, dia berbicara padaku dengan suara berbeda. Dengan malas aku segera bangkit dari tempat tidurku dan berjalan keluar. Di depan pintu, Jonghyun hyung, Taemin dan Minho sedang berdiri menyaksikanku dan Onew hyung. Baiklah, sepertinya kali ini aku mengalah saja. Onew hyung adalah tipe orang yang terlalu baik, ramah dan agak konyol, tapi saat dia marah, lebih baik kau tak berurusan dengannya. Sebenarnya diantara kami semua, hanya aku yang bisa meredakan kemarahan Onew hyung. Tapi, dengan hati dan pikiranku yang terus-terusan dipenuhi tentang Minra, entah menguap kemana semua kemampuan itu.

Kami berlima duduk mengelilingi meja itu. Berhadapan dengan lima paket ayam goreng spesial yang pastinya merupakan pesanan Onew hyung. Yang benar saja, kenapa anak-anak ini tak memasak saja sih, dasar pemalas. Mereka berempat mulai serius menikmati setiap gigitan daging ayam yang empuk dan renyah ini. Sementara aku hanya mencuil-cuil dagingnya dengan tak berselera. Kuambil susu coklat yang baru saja dituangkan Taemin ke gelasku, meneguknya pelan.

Ring ding dong . . . . ring ding dong . . .

 

Suara bel pintu menyadarkan kami berlima. Semuanya menoleh saling berpandangan.

“ Biar aku saja “

Aku segera berdiri berjalan menuju pintu yang masih terus berbunyi. Yah setidaknya aku bisa kabur dari ayam-ayam itu. Aku memutar kenop pintu dan membukanya. Tampak seorang yeoja yang sedang berdiri membelakangiku.

“ Mianhamnida. Kau, kau cari siapa ?? “

Begitu mendengar suaraku yeoja itu segera berbalik, matanya berkaca-kaca menatapku.

“ Ki, Kibum-ah “

Minra berdiri kaku di hadapanku. Penampilannya terlihat benar-benar kacau tak seperti biasanya. Matanya terlihat bengkak dan hidungnya memerah. Air mata kembali menetes di wajahnya.

“ Kibum-ah, mianhae. Aku . .. “

Aku segera mendekapnya dalam pelukanku. Ya ampun, aku tak tahu kenapa aku tiba-tiba melakukan ini. Tapi aku begitu merindukannya, aku begitu mencemaskannya, aku juga begitu kesal dengannya. Dia tetap diam, tak berusaha melepaskan pelukanku. Yang dia lakukan adalah menangis, lama-lama malah semakin kencang. Bahuku basah dengan air matanya.

“ Kibum-ah, mianhae. Aku tak bermaksud. Aku, “

“ Ne, aku tahu. Maafkan aku juga karena telah bicara kasar padamu. Jadi kau mau tetap memanggilku Kibum? “

Dia mengangguk pelan, masih dalam pelukanku.

“ Syukurlah, aku tak perlu mengganti namaku kalau begitu. Aku sedang memikirkan nama yang kira-kira cocok untukku, tapi kurasa Kim Kibum adalah yang terbaik. “

Dia tertawa pelan mendengar ucapanku. Aku memeluknya semakin erat. Aku berjanji mulai sekarang aku yang akan menjaganya. Aku takkan membuatnya sedih dan terluka lagi. Kim Kibum yang ini akan menggantikan Kim Kibum yang dulu dihatinya. Aku akan membuatnya mencintaiku sebagai Kibum yang berbeda. Aku akan membuatnya bahagia pernah mengenal seorang Kim Kibum selama hidupnya. Aku janji, janji Kim Kibum yang berbeda.

<the end=””>

One thought on “Is it My Fault? [Fanfiction]

  1. Pingback: Annyeonghaseyo… A-sin Imnida ^^ [Share] « I am Hottest ♔ Queen's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s