Shaking Heart (Chapt 03) [Fanfiction]

Annyeong…

Ada yang suka FF Detective Conan?! Ini FF DC pertama yang saia buat dan entah kenapa jadi tak nemu feel untuk meneruskannya *kebanyakan bkin FF korea sihh*

Enjoy this one, ini chapter 3, yang chapter sebelumnya bisa diliat disini  1  2

Lies

Lying to me to leave,

Lying to me to not look back,

Lying to me to never look for you again,

No matter how many times I think it through,

I can’t live without you

(T-ara)

Cast :          Character in DC

Disclaimer :  I don’t own this character, all of them is belongs to Aoyama-sensei, I just have the Strory

Genre :        Romance, Tragedy *hhaha,, yang ini tragedinya parah*

** Author’s note :: Jadi juga yang bagian 3, akhirnya. sebelumnya mianhae kalo bagian ini agak gaje, aneh sama OOC. baru dibikin mendadak sermalam. pas mau tidur tiba-tiba dapat ide buat endingnya nanti. jadi, buru-buru nyelesain yang part 3 ini, biar bisa cepet ending. Sekali lagi maaf kalo ada yang tidak berkenan di hati.

Happy reading, and don’t forget to leave ur thumbs and comment.,

Shiho’s POV

Aku keluar dan menutup pintu kamarku. Berjalan menaiki tangga perlahan. Entah kenapa sekarang aku sangat ingin minum segelas kopi hangat. Sekedar menghangatkan perasaanku yang terasa membeku. Jangan tanya kenapa, aku juga tak bisa memastikan kenapa perasaanku tak enak belakangan ini.

“ Kau mau membuat rumah ini kebanjiran, Tantei-kun ?! “ ucapan bernada pedas itu spontan terlontar dari mulutku saat melihatnya. Bagaimana tidak, dia berdiri di sana, menuang air ke gelas di atas meja, tapi sepertinya pikirannya benar-benar melayang sampai tak sadar kalau gelasnya sudah penuh, dan malah membuat air mengalir membasahi lantai di bawahnya. Bagaimana bisa dia tak sadar saat melakukannya ?!

“ Ah,, Gomen “ hanya itu yang terucap darinya. Dia memandang hasil perbuatannya tanpa ekspresi. Menatap kosong ke lantai sesaat. Sebelum akhirnya berbalik mencari alat pel. Dan lagi-lagi, masih tanpa sadar mungkin, waktu dia berbalik, tangannya ‘menabrak’ gelas di atas meja. Dan tentu saja, gelas itu jatuh dan pecah berhamburan di lantai. Hey, aku belum pernah melihatnya seceroboh ini.

“ Ah,, Gomen “ kata itu lagi yang diucapkannya. Dia berjongkok mulai memunguti pecahan gelas tadi. Aku menghampirinya dan menariknya hingga berdiri.

“ Biar aku saja yang membersihkannya. Kau pergilah, bisa-bisa semua barang disini hancur bila disentuh olehmu. Baka !! “ aku sengaja menekankan kata terakhir dan menunggu responnya.

Tapi tak ada, dia malah beranjak keluar dari dapur dengan langkah gontai. Biasanya dia akan langsung nyolot membalas perkataanku. Dia akan mencari cara untuk balik memarahiku. Dan ujung-ujungnya kami akan adu mulut. Tapi sekarang, dia malah mengacuhkan ucapanku. Bahkan aku tak tahu apa dia mendengar ucapanku tadi atau tidak.

Hufft . . . sejak pertama kali aku bertemu dengannya sampai detik ini, baru sekarang aku melihatnya seperti sekarang. Bahkan saat dia tak bisa memecahkan kasus pelik pun, dia tak pernah terlihat se-kosong ini. Walaupun saat ini dia masih tetap makan, minum, tidur, mandi, bicara, tertawa, tapi tetap saja terasa kurang. Terasa seperti tak bernyawa. Tak ada lagi Shinichi yang sombong, congkak, suka pamer dan tak mau kalah. Misteri, kasus, teka-teki tak lagi menarik minatnya. Beberapa kali bocah Osaka itu datang kemari untuk menawarinya tentang kasus. Tapi, sama sekali tak ada hasil.

Professor yang bilang padaku, kalau penyebabnya adalah karena gadis di kantor detektif itu tak mau bertemu ataupun bicara dengannya.

Tapi, benarkah hanya karena itu ?!

Ini pertama kalinya aku mendengar ada orang yang bisa seperti mayat hidup seperti dia. Benar-benar tak menyangka, anak berotak jenius seperti dia, jadi tak bisa menggunakan kejeniusannya bila berhadapan dengan hal seperti ini. Huhh . . .

Sementara aku, aku tak tahu harus sedih atau senang mendapati kenyataan seperti ini. Di satu sisi, aku sedih karena melihat dia seperti ini. Aku tak bisa lagi bertengkar dengannya, aku tak bisa lagi mendengar ucapan-ucapannya yang selalu terkesan sombong, tak bisa mendengar ocehannya tentang kasus, novel detektif atau pun tentang klub sepak bola kesayangannya. Bahkan aku juga tak pernah lagi melihat cengiran khasnya.

Tapi, ada sisi lain di hatiku yang merasa senang. Entah kenapa. Aku merasa, kalau gadis itu tak lagi mau bertemu serta bicara dengannya selamanya. Itu berarti nanti dia bisa saja menyerah bersikap seperti mayat hidup. Bisa saja nanti dia akan kembali normal. Dan saat itu, hanya aku yang ada di hadapannya. Hanya aku yang akan menemaninya, dan hanya aku yang akan ada di hatinya. Hanya aku, bukan gadis itu.

Aku terdiam memikirkan hal itu. Hey, bagaimana bisa aku berpikiran seperti ini?! Aku tahu, mungkin bagian diriku yang ini, akan membuat Shinichi bingung atau merasa susah. Tapi, aku harus bagaimana. Aku juga tak ingin karena ini dia membenciku. Tak ingin. Aku, aku hanya ingin bersamanya. Itu saja. Apa salah ?!

 

*****

“ Ai-kun . . . kau tak usah pergi. Biar aku saja, “

“ Tidak professor, kata dokter hari ini kau benar-benar harus istirahat di rumah. Biar aku yang pergi belanja. Tenang saja, aku akan hati-hati. Sangat berhati-hati “

“ Kalau begitu, tunggu Shinichi datang, biar dia bisa menemanimu pergi. “

“ Professor, kau tahu sendiri bagaimana keadaannya belakangan ini. Kalau dia ikut, bisa-bisa aku malah repot terus mengawasinya. Bisa-bisa nanti dia tertabrak mobil, jatuh di jalan, menabrak tembok. Itu malah akan semakin membuatku susah, berusaha menyamar sambil menjaganya. Jadi, lebih aman kalau aku pergi sendiri. “

“ Tapi… “

Aku mengambil dompet dan daftar belanjaan dari atas meja. Mengenakan jaket tebal bertudung serta kacamata hitam.

“ Aku pergi tak lama “

Kututup pintu kamar professor dan meninggalkannya yang masih menatapku dengan pandangan tak rela. Aku tahu dia cemas membiarkanku berkeliaran di luar sendirian. Tapi, aku benar-benar harus keluar untuk berbelanja keperluan dapur. Kalau tidak, kami tak makan hari ini. Memang biasanya professor yang melakukannya, tapi karena dia sedang sakit, jadi hanya aku yang bisa pergi. Menyuruh bocah detektif itu, dalam keadaannya sekarang, jelas mustahil.

( 1 jam kemudian )

Aku kembali memeriksa barang belanjaanku. Mencocokkannya dengan daftar belanjaan di tangan. Memastikan tak ada yang terlupa. Saat aku kembali mendongakkan kepala, pandanganku menangkap sosok mereka yang sedang duduk di bangku taman berdua. Bocah dan gadis dari Osaka itu. Jadi mereka datang ke Tokyo rupanya. Segera sebuah ide terlintas di benakku. Aku bisa mengundang mereka makan malam. Kalau ada bocah itu, aku jadi punya alasan untuk meminta Shinichi makan di rumah professor. Aku tersenyum senang dan segera melangkahkan kaki ke arah mereka.

“ Aku benci gadis berambut merah itu “

Eh ?! suaraku tertahan saat mendengar ucapan dari gadis berkuncir kuda di hadapanku.

“ Haa !? Apa Kazuha ?? “

“ Aku benci gadis berambut merah itu. Aku benci gadis yang tinggal di rumah professor itu. Aku benci !!! “

Kali ini ucapannya spontan membuatku mengurungkan niat memanggil mereka. Aku segera bersembunyi di balik pohon tepat di belakang bangku yang mereka duduki. Aku penasaran, kenapa gadis itu bilang kalau dia membenciku. Kenal saja tidak. Dia baru sekali bertemu langsung denganku dalam tubuh Shiho Miyano ini, tapi kenapa dia bisa bilang kalau dia membenciku ?! Apa aku berbuat salah padanya ?!

“ Kenapa, apa dia berbuat sesuatu padamu ?! “ bocah berkulit hitam itu memandang gadis di sampingnya dengan pandangan bertanya. Aku pun ikut menatap mereka sembunyi-sembunyi dari balik pohon. Gadis itu terdiam lama kemudian menggeleng pelan.

“ Hahaha, lalu kenapa kau membencinya ?! Kau tidak bisa membencinya jika tak punya alasan Kazuha. Baka !! “

Kulihat bocah itu kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku. Gadis ‘aneh’ itu masih tetap diam.  Dasar, bagaimana dia bisa seenaknya mengatakan membenciku kalau tak punya alasan.

“ Aku membencinya !!! “

Mulai lagi dia mengatakan hal itu. Ada apa sih dengan gadis ini ?!

“ Aku membencinya karena dia membuat Ran kehilangan Shinichi. “

Apa katanya ??

“ Aku membencinya karena dia membuat Shinichi mengabaikan Ran. Aku membencinya karena sebagai sesama wanita, dia tak mengerti apa yang di rasakan Ran. Aku membencinya karena dia bisa bersenang-senang saat Ran terluka. Dan aku membencinya karena dia menyukai Shinichi, padahal dia tahu ada Ran yang selalu menunggu Shinichi. Aku membencinya, benar-benar membencinya. Bahkan walaupun Ran tak membencinya, aku akan tetap membencinya “

Aku terpaku mendengar perkataan gadis itu. Kulihat bocah Osaka itu juga sama terkejutnya seperti aku. Sementara itu, gadis itu terlihat terengah-engah dengan nafas memburu. Hey, sebegitu besarkah kebencian gadis itu padaku ?!

“ Kazuha, apa maksudmu ?! Kau tak bisa membenci orang lain karena hal itu. Lagipula yang kau katakan itu belum pasti. Itu hanya pikiranmu saja “

“ Tidak, kau juga tahu itu Heiji. Aku tak pernah membenci orang tanpa bukti yang jelas “ kali ini suara gadis itu tak setinggi tadi. Tapi jelas, masih ada emosi yang tergambar dari suaranya.

“ Lagipula apa yang belum pasti Heiji ?! Bukankah sudah jelas, Shinichi lebih memilih menjaga gadis itu daripada memberikan penjelasan pada Ran. Shinichi lebih memilih berkorban nyawa menyelamatkan gadis itu daripada berkata jujur pada Ran. “

“ Kalau begitu, kau seharusnya membenci Shinichi karena hal itu. Bukan malah membenci gadis itu “

“ Heiji, kau sendiri kan yang bilang padaku, kalau Shinichi melakukan semua itu karena dia detektif. Kau juga akan melakukan hal yang sama dengannya, melindungi gadis itu karena bagaimana pun dia adalah klien. Lagipula, kalau Shinichi meninggalkan Ran karena mencintai gadis itu, dia tak akan menjadi seperti sekarang saat Ran tak mau melihatnya lagi. Jadi kosong tak bernyawa. “

“ Jadi, menurutmu gadis itu yang salah dalam hal ini ?! Itu sebabnya kau membencinya ?! “

“ Ya, walaupun  aku juga kesal dengan sikap Shinichi yang tak jujur pada Ran sejak awal. Tapi bagaimanapun juga aku tak membencinya yang berusaha bersikap professional “

Aku terdiam, berusaha mencerna setiap kata dari gadis itu.

“ Aku membenci gadis itu. Bukankah dia juga wanita ?! Dia pasti bisa merasakan sakit yang dirasakan Ran karena sikap Shinichi. Tapi kenapa dia malah diam, kenapa dia tak berusaha untuk menjernihkan masalah. Kenapa dia tak mencoba untuk menjelaskan pada Ran. Kenapa dia malah tetap tenang, seakan-akan senang. Atau dia memang senang. Senang karena berpikir bisa memiliki Shinichi jika Ran tak lagi menginginkan detektif itu. “

“ Hey, Kazuha,, bukankah itu wajar, kau juga seorang wanita, kau pasti bisa merasakan perasaannya juga. Bagaimana saat orang yang kau sukai, tiba-tiba dicampakkan oleh orang yang disayanginya. Dan orang itu, ada di hadapanmu. Hanya ada kau yang akan menenangkannya, hanya ada kau yang akan menghiburnya. Bukankah itu anugerah ?! “

Bocah hitam itu tertawa dengan ucapannya sendiri. Ya, itu anugerah dari Tuhan untukku. Selama ini aku terlalu banyak menderita. Jadi dia membuat Ran mencampakkan Shinichi dan memberikannya padaku. Itu artinya Tuhan sayang padaku.

“ Kau salah Heiji. Aku tahu, impian terbesar dari seorang wanita adalah bersama dengan orang yang disayanginya. Tapi, saat orang itu malah menderita karena bersama dengan kita, bukan dengan orang yang disayanginya, itu sama saja bukan kebahagiaan. Kau mungkin bisa memiliki senyumannya, pelukannya, tubuhnya, tapi tidak hatinya. Dan tak ada yang lebih indah bagi seorang wanita selain hati dan cinta dari orang yang disayanginya. “

Angin mulai berhembus kencang. Membawa beberapa helai daun serta kertas-kertas terbang bersamanya. Angin juga meniup beberapa helai rambutku. Menyapu wajahku perlahan.

“ Aku tak tahu apa yang dipikirkan gadis itu. Tapi, kalau aku jadi dia, aku tak akan tinggal diam. Aku pasti sudah mati-matian meminta Ran memaafkan Shinichi. Meminta Ran menerima penjelasan Shinichi. Karena aku sama sekali tak mau melihat orang yang kusayangi terluka. Apa gunanya dia menjadi milikku kalau dia tak bahagia. Apa gunanya dia bersamaku sementara dia terluka. Hal itu bukan anugerah, tapi bencana. Tak ada yang lebih menyedihkan dibanding hal itu. “

“ Kazuha . . . “

“ Saat kau menyayangi seseorang, maka kau akan rela berkorban apa pun untuknya. Dirimu, hartamu, jiwamu, hatimu, bahkan nyawamu sekalipun. Kau tak akan peduli apapun lagi, saat kau melakukannya demi orang yang kau sayang. “

“ Kazuha . . .”

“ Sudahlah Heiji baka,, berhentilah membela gadis itu. Atau jangan-jangan kau menyukainya ?! Benarkah kau menyukainya Heiji ?? Benarkah ?? “

“ Aa.., Kazuha. . . “

Aku berjalan pelan kembali ke rumah. Meninggalkan kedua orang itu, tak lagi berminat mendengar pembicaraan mereka. Lagipula, dari suaranya yang masih terdengar saat aku sudah agak jauh, sepertinya mereka sedang bertengkar.

Aku mempercepat langkahku menuju rumah professor. Sampai disini, segera kuletakkan belanjaan itu di dapur dan berjalan ke kamarku. Aku duduk di sudut tempat tidur dan diam. Masih memikirkan ucapan gadis tadi. Benarkah keadaanku menyedihkan ?? Sangat menyedihkan karena orang yang kusukai ada di hadapanku tapi dia tersiksa. Tersiksa karena orang yang dia sukai tak mau menerimanya. Dan itu karena aku.

Karena ingin melindungiku, dia mengabaikan gadis itu. Karena ingin menjagaku dia membiarkan gadis itu. Bukankah itu artinya dia lebih memilihku dibanding gadis itu ?! Bukankah itu artinya dia lebih menyayangiku ?!

‘ Itu karena dia detektif. Dia berusaha bersikap professional.’

‘ Gadis itu adalah kliennya. Klien yang harus dilindungi keselamatannya ’

Aku menutup wajahku dengan bantal. Butiran air mata jatuh membasahi bantal itu. Benarkah aku hanya dianggap sebagai kliennya ?! Tak lebih !? Air mataku semakin deras mengalir memikirkan hal itu. Tiba-tiba aku sadar, benar apa yang dikatakan Kazuha. Keadaanku sangat menyedihkan. Menyedihkan mengetahui orang yang kita sukai tak menyukai kita. Tapi lebih menyedihkan saat orang itu bersama kita, namun dia tak bahagia.

Bukankah selama ini, aku yang selalu melihatnya. Shinichi yang bahagia saat melihat Ran tertawa. Shinichi yang cemas memikirkan Ran dalam bahaya. Shinichi yang sedih saat tahu Ran terluka. Semua ekspresi itu, hanya ada dari Shinichi untuk Ran, bukan untukku. Bukankah itu sudah jelas, jadi kenapa aku berusaha menyangkalnya.

Tiba-tiba aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku harus membantu Shinichi. Membantu Shinichi mendapatkan kesempatan kedua dari Ran. Membantu mereka berdua menemukan kebahagiaan. Walaupun dengannya aku harus berbohong pada dunia. Berbohong kalau aku akan pergi tinggalkan semua rasa, berbohong kalau aku takkan mencarinya lagi, berbohong kalau aku takkan melihatnya lagi. Walau aku tahu, berapa kalipun aku mencoba, aku takkan bisa melakukannya.

Setidaknya, aku ingin melihatnya bahagia. Dan mungkin saja, dengan itu aku juga bisa bahagia.

9 thoughts on “Shaking Heart (Chapt 03) [Fanfiction]

  1. Next part nya dong🙂
    ditunggu loh

    nice ff, baru kali ini nemu ff yang castnya ShinRan tp ada Ai jg..hehe

    oh ya, bikin ff yoonhae jg dong😀

    • Yoonhae?? Yoona donghae?? Kmrin smpat bkin ff yg sugen tp male castny siwon,,
      Yahh,, if i have idea, i will make one,,

      Anyway, tenkyuu udh mmpir🙂
      chapter ending ff ini??? Mmmm, coming soon yaaaaaa: D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s