Spesial Jaebum & Woo’s Bday : Finding You (Chapt 01) [Fanfiction]

Annyeong annyeong~~

FF Spesial B’day buat oppadeul tercintahh. Kali ini ada dua cast sekaligus soalnya oppadeul ultahnya deketan sih. FF spesial buat My Only One Leadja in The World PARK JAEBUM  and  My Cutie Ang Ang  JANG WOOYOUNG

Pengen baca FF spesial b’day oppadeul lainnya. Ini ada FF Bday buat JUNSU and this is for JUNHO ^^

Tittle             :  Finding You (Chaptered 01)

Author          :  Cy Suchy

Cast               :  Jang Wooyoung

                           Park Jaebum

Genre           :   Family, Romance

Length          :   Series

Warning       :   Awalnya saia sempat mempublish Prolog FF ini di FB, tapi dengan cast Onew dan Taemin SHINee, tapi berhubung proyek FF ultah Wooyoung and Jaebum gak ada ide lanjutinnnya, makanya FF ini saia rombak dengan cast mereka.

Enjoy it . . .

Tinggalkan sesuatu setelah membacanya please, hargailah karya Author ini. Gomawoo^^

Tak semua pencarian berjalan kedepan.

Kadang sebuah pencarian harus berjalan ke belakang, menemukan masa depan pada kisah penuh kenangan.

Seperti sebuah musik yang mengalun, mencari refrain pengulangan.

Seperti sebuah roda yang melaju, mencari jejak tapak kenangan.

 

Kenangan bukanlah sesuatu yang hilang, bukan juga sebuah peristiwa yang telah berlalu.

Kenangan adalah sebuah kisah pada suatu waktu yang terus ada di tempatnya.

Selalu.

Setia menunggu.

—————————————————————

** Wooyoung’s POV **

 

Aku kembali duduk diam di taman itu, taman yang sama yang selalu kukunjungi setiap hari. Entah kenapa aku merasa lebih nyaman berada disini. Hatiku merasa, mungkin aku kan menemukannya disini. Menemukan kebahagiaan itu disini.

 

Tapi, sejauh ini aku tak menemukan apa-apa. Atau lebih tepatnya belum menemukan apa-apa. Aku juga tak tahu, sebenarnya apa yang sedang kutunggu, apa yang sesungguhnya sedang kucari. Aku tak tahu pasti bagaimana bentuk kebahagiaan itu sendiri. Aku tak tahu seperti apa rupa kebahagiaan itu.

 

Pernah aku bertanya padanya tentang bagaimana ciri-ciri kebahagiaan itu, sehingga aku bisa lebih mudah untuk menemukannya. Tapi, dia hanya menertawakan kepolosanku, dan berkata kalau kebahagiaan itu tak perlu dicari, karena nanti dia yang akan datang menghampiri kita dengan sendirinya.

 

Tapi, seberapa lama pun aku menunggunya, kebahagiaan itu tak kunjung muncul. Kalau begitu, satu-satunya cara adalah akulah yang harus mencarinya. Mencari kebahagiaan itu, menemukan kebahagiaan itu, dan membawanya kembali padaku, kembali pada kami.

 

Aku menatap sekelompok anak kecil yang asyik berlarian, saling berkejaran kesana kemari. Apa itu yang namanya bahagia? Apa mereka tertawa karena merasa bahagia? Bagaimana cara mereka menemukan kebahagiaan itu? Apa mereka juga mencarinya sepertiku, atau mereka hanya menunggu dan kebahagiaan itu yang datang sendiri menghampiri mereka?

 

Perhatianku teralih lagi pada sepasang kekasih yang sedang berjalan sambil bergandengan mesra. Apa yang mereka rasakan juga merupakan bentuk dari kebahagiaan? Apa mereka juga perlu waktu yang lama untuk menemukan kebahagiaan itu? Apa nanti aku juga bisa merasakan kebahagiaan sama seperti mereka?

 

Dari jauh terlihat sepasang suami istri  yang membawa dua anaknya, saling bercanda, saling mengasihi. Yang itu, kebahagiaan yang itu, kami pernah merasakannya. Tapi hanya sesaat, hanya dalam waktu singkat. Kenapa singkat? Kenapa kebahagiaan yang itu hanya kami rasakan dalam kurun waktu yang tak lama? Tak bisakah kami merasakan kebahagiaan itu lagi? Ataukah jatah dari kebahagiaan itu bagi kami memang hanya seperti itu? Tak bisa ditambah lagi.

 

Aku kembali melirik jam di pergelangan tanganku, sudah pukul 6 sore, lebih baik aku pulang, sudah malam. Dengan malas aku beranjak dari bangku taman itu, dan berjalan ke arah rumahku yang tak begitu jauh. Aku kembali memikirkan cara untuk mendapatkan kebahagiaan itu lagi, cara yang paling cepat untuk meraihnya. Karena aku sendiri tak tahu berapa lama lagi waktuku disini. Bisa saja aku pergi sebelum kebahagiaan itu kutemukan.

 

Langkahku terhenti oleh suara tangisan anak kecil di depanku. Namja kecil itu berjongkok di pinggir jalan, sambil membungkuk menyembunyikan isakannya di balik kedua tangannya. Walaupun pelan, namun aku bisa mendengar dengan jelas isakannya. Kupandangi sekitarku, orang-orang berlalu lalang tanpa mempedulikan anak kecil ini. memangnya mereka tak punya cukup perasaan untuk sekedar berhenti menanyakan keadaannya? Atau mereka terlalu sibuk sehingga tak punya waktu untuk sekedar menghiburnya? Ataukah, mereka takut, kebahagiaan mereka akan hilang terhapuskan oleh air mata anak kecil ini?

 

Aku berjalan pelan, menapakkan kedua kakiku, mendekati namja kecil yang masih menangis itu. Dengan agak sedikit takut, aku ikut berjongkok mendekatinya, mengusap pelan kepala kecilnya.

 

“ Adik kecil kenapa menangis ?? “

Anak itu mengangkat kepalanya, wajahnya basah oleh airmata. Kedua matanya yang bulat menatapku, bertanya. Mungkin dia heran karena ada orang yang menghampirinya. Kutatap wajah namja kecil ini, hidung dan telinganya terlihat begitu merah, sudah berapa lama dia menangis disini.

 

“ Kau mau hyung antarkan pulang?? “

 

Dengan sedikit ragu aku memberanikan diri membantunya. Mungkin saja sekarang dia terpisah dari orang tuanya dan tak tahu jalan pulang. Kasihan sekali anak ini, mungkin saja dia punya kebahagiaan yang tak bisa lagi kudapatkan. Dengan ragu-ragu kuulurkan tanganku padanya, memintanya menggenggam tanganku, agar bisa membawanya kembali pada kebahagiaannya. Mata hitamnya kembali menatapku penuh tanya, apakah dia ragu menerima bantuanku?! Apakah aku tak cukup pantas menolongnya mendapatkan lagi kebahagiaannya ?!

 

“ Yoo,, Yoogeun-ah “

 

Aku mengangkat kepalaku, menyadari ada orang yang berada di dekat kami. Begitu pula anak itu. Begitu melihat orang yang memanggilnya, ekspresi sedihnya langsung berubah menjadi sinar kebahagiaan, senyum segera menghiasi wajah polosnya.

 

“ Noona “

 

Dengan segera dia memeluk yeoja yang datang itu. Yeoja itu juga balas memeluknya. Aku menatap kedua orang itu dengan pandangan heran. Kurasa, dia tak butuh bantuanku. Kupandangi yeoja di hadapanku itu lagi. Anak ini tadi memanggilnya dengan sebutan noona, apa dia adalah kakak perempuannya?? Tingginya tak seberapa, kira-kira hanya sampai di telingaku, wajahnya tak begitu cantik, malah terlihat imut seperti anak kecil, rambutnya yang panjangnya hanya sebahu tergerai begitu saja. Hey, sekarang aku malah memperhatikan yeoja ini. Apa aku begitu terobsesi dengan kebahagiaan sampai-sampai mengomentari salah satu sumber kebahagiaan anak kecil ini.

 

Yeoja itu berbalik ke arahku, mengucapkan terima kasih sambil membungkuk, dengan kaget  aku balas membungkuk ke arahnya. Dia tersenyum, mengucapkan terima kasih lagi dan mengajak anak kecil itu pergi dengan sebelumnya melambai padaku. Aku membalas lambaian mereka, memperhatikan mereka berjalan sampai menghilang di persimpangan.

 

Aku tersenyum kecil, berbalik, kembali berjalan pulang. Anak kecil itu saja punya kebahagiaannya sendiri. Bukankah aku sendiri yang menyaksikannya, bagaimana isak kecil anak itu berubah menjadi senyuman saat melihat yeoja itu datang. Dia bahkan sama sekali tak butuh bantuanku untuk mengantarkannya pulang, menemukan kembali kebahagiaanya. Kebahagiaan itu yang datang sendiri menjemputnya. Kenapa ?? Bukankah aku ingin berbuat baik untuk membantunya, apa aku sebegitu tak pantasnya untuk sekedar menolong orang mendapatkan kebahagiaan?? Apa Tuhan menciptakan kebahgiaan itu memang jauh dariku ??

 

Aku kembali diam, jadi tak bersemangat untuk memikirkan kebahagiaan lagi. Aku melangkah lemas menuju sebuah rumah sederhana yag ada di ujung jalan. Kulangkahkan kedua kakiku memaksa tubuhku untuk terus berjalan. Begitu sampai kurogoh saku belakang celanaku mencari sebuah kunci. Begitu menemukannya kumasukkan anak kunci itu ke lubangnya, memutarnya, hingga pintu itu terbuka. Aku masuk ke dalam rumah itu, menyalakan beberapa lampu agar kegelapan tak lagi menguasai keadaan.

 

Kuedarkan pandanganku pada seluruh ruangan dalam rumah ini. Perhatianku teralih pada dinding rumah dengan cat berwarna kuning kusam itu. Nampaknya dinding-dindingnya harus segera di cat kembali. Ada beberapa bagian yang catnya telah terkelupas, menampakkan bekas kasar semen serta bata merah yang membangunnya. Ada juga beberapa bagian yang mulai berwarna kehitaman, menandakan jejak air yang ikut jatuh menetes dan meresap dari atap-atap tua  yang telah bocor.

 

Kuletakkan tas punggungku di atas meja kayu yang sudah cukup tua. Bergerak perlahan, mendekati tempat air, menuangkannya ke gelas dalam genggamanku sampai terisi penuh. Kuteguk habis air itu, membiarkan kesejukannya mengalir lewat kerongkonganku, membantu menenangkan seluruh syaraf-syaraf tegang di tubuhku. Kulirik jam usang yang berada di atas meja di depanku, pukul 7 malam. Lagi-lagi dia pulang melewati waktu kerjanya. Seharusnya dia sudah ada disini sejak 2 jam yang lalu. Kenapa dia tak muncul ?? Apa saja yang dia lakukan di luar sana untuk mencari nafkah kebutuhan kami. Apa saja yang telah dia kerjakan untuk menutupi semua kekurangan kami. Apa saja yang telah dia korbankan demi semua ini ??

 

Aku meraih kursi terdekat, duduk bersandar melepas penat. Tentu saja penatku tak seberapa dengan yang dirasakannya, berjuang sendiri demi hidup kami. Setelah umma dan appa pergi, dia yang menggantikan segalanya. Menggantikan appa mencari nafkah untukku, menjaga dan melindungiku. Menggantikan umma merawatku, menyayangiku, memanjakanku. Tak peduli lagi dengan kehidupan pribadinya, tak mau lagi ambil pusing dengan perasaannya. Apakah sebegitu besarnya artiku untukmu hyung, hingga kau harus berkorban sebanyak ini?! Mianhae hyung, kalau saja aku tak melakukan hal bodoh itu, kalau saja aku tak menuruti rasa egoisku, tentu saja kita takkan kehilangan orang-orang yang kita sayangi, tentu saja kau tak perlu bersusah payah seperti sekarang ini.

 

Aku mengangkat kepalaku, terdengar suara anak kunci yang beradu di depan pintu. Tak berapa lama, tampaklah sesosok namja yang merupakan malaikatku. Namja yang karena terlalu letihnya sampai tak punya waktu untuk mengeluh. Tak pernah sedikitpun tergurat di wajah tampannya rasa sedih, rasa penyesalan maupun kekesalan. Yang selalu ada hanyalah senyuman. Senyuman yang mampu mengusir semua rasa sedih dan gundahku, senyuman yang mampu menguatkanku, meyakinkanku bahwa di dunia ini kami masih saling memiliki satu sama lain.

 

“ Wooyoung-ah, apa kau sudah makan ?? “

 

Lihatlah, bahkan setelah seharian bekerja tak kenal lelah, dia masih saja selalu lebih dulu mengkhawatirkanku. Bukankah seharusnya aku yang bertanya hal itu padanya!? Apa kau sudah makan hyung? Apa kau capek hyung? Tapi, lagi-lagi aku hanya tersenyum kemudian mengangguk menjawab pertanyaannya. Dia sama sekali tak mau aku terlalu berlebihan mengkhawatirkannya. Dia sama sekali tak mau aku terlalu cemas memikirkan keadaannya. Hyung, setelah semua pengorbananmu untukku, tak bisakah aku sekedar ikut khawatir akanmu??

 

Aku berdiri, bergerak mengisi lagi gelas di tanganku hingga penuh. Kuulurkan gelas itu ke arahnya yang kini telah duduk di kursi di sebelahku. Aku berputar hingga berada di belakang punggungnya, menggerakkan kedua tanganku, mendarat tepat di kedua bahunya. Kuurut pelan tubuhnya, membantu mengusir semua letih itu darinya.

 

“ Gwaenchana, Wooyoung-ah “

 

Tak apa-apa hyung, sungguh tak apa-apa. Bukankah ini tak ada nilainya bila dibandingkan dengan semua yang kau lakukan untukku. Selama hampir 3 tahun ini, melakukan semuanya hanya untukku, tidakkah itu terlalu berlebihan untuk namdongsaeng-mu ini.

 

Mianhae, hyung. Aku selalu saja merepotkanmu. Aku senantiasa menyusahkanmu. Tak pernah sedikit pun membuatmu bahagia. Tapi, aku janji, aku pasti akan menemukannya lagi untukmu. Walaupun aku tak tahu bagaimana caranya. Aku pasti menemukan kebahagiaan itu kembali untukmu. Memberikan kesempatan untukmu sekali saja  merasa bahagia. Aku janji.

********* 

 

** Jaebum’s POV **

 

Aku membuka mataku, merasakan sinar-sinar matahari pagi yang mulai menyusup masuk dari celah-celah  jendela kamar. Kuhirup segarnya udara di pagi itu, mengatur sirkulasi nafasku. Kubiarkan sejuknya udara itu menulusup di setiap sel-sel tubuhku, ikut mengalir bersama darahku, berdenyut bersama detakan jantung dan nadiku. Kuedarkan pandanganku menangkap setiap inchi ruangan kamar yang kutempati ini. Kira-kira sudah berapa lama aku meninggalkan kehidupanku yang dulu? Kira-kira sudah berapa lama waktu yang kulalui tanpa melakukan kebiasaan-kebiasaanku dulu. Telah berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk membentengi diriku dari segala bentuk emosi yang dulu bersarang nyaman di diriku.

 

Benarkah aku yang sekarang berbeda dengan aku yang dulu? Jaebum yang sekarang bukan lagi Jaebum yang dulu? Entahlah, aku juga tak bisa memastikannya. Bukankah orang lain yang menilai bagaimana diri kita. Tapi, yang pasti sekarang adalah duniaku yang sekarang jelas berbeda dengan duniaku yang dulu. Di duniaku yang sekarang, hanya ada kami. Hanya ada aku dan Wooyoung. Tak ada tempat untuk hal lain.

 

Kulirik namja yang masih terlelap disampingku. Aku tersenyum, kuelus pelan rambutnya, mengamati setiap lekukan di wajahnya. Satu-satunya anggota keluarga yang masih kumiliki. Kuamati wajah polosnya yang masih asyik bergelayut di alam mimpi itu dengan sayang. Mianhae, Wooyoung-ah. Maafkan hyung-mu ini kalau tak bisa menjaga dan melindungimu dengan baik. Maaf kalau hyung sering kali tak bisa memenuhi permintaan dan keinginanmu. Maaf kalau gara-gara hyungmu yang tak berguna ini, yang tak bisa mengajarimu ini, kau jadi merasa sendiri di dunia ini. Kau tak lagi bisa melihat appa, kau tak lagi bisa memeluk umma. Mianhae. . .

 

Aku segera bangkit, bangun dari tidurku. Kurapikan selimut yang menutupi tubuh namdongsaeng-ku itu, kemudian beranjak keluar.  Aku segera menyambar handuk yang tersampir di tiang jemuran dekat pintu belakang, segera mandi sebelum memulai aktifitas harianku. Selesai mandi, aku bergegas menyiapkan sarapan untuk Wooyoung, walaupun hidup kami tak bisa dibilang mewah, tapi setidaknya kami masih punya cukup uang untuk makan dan untuk kebutuhan sehari-hari lainnya.

 

Kutata rapi makanan ala kadarnya itu, mungkin saja dengan menatanya bisa menambah selera makan anak itu. Belakangan ini, ada yang terasa aneh dengan sikapnya. Dia jadi jarang bicara, malas makan, bahkan beberapa kali aku memergokinya hanya duduk diam, tak melakukan apa-apa. Kemana perginya adik kecilku yang selalu ceria dan penuh senyum. Kemana perginya Wooyoung-ku.

 

“ Pagi, hyung “

 

Aku menoleh, kudapati namja kecil itu berjalan lemas ke arah kamar mandi sambil mengucek-ucek matanya. Mengapa dia bisa ikut-ikut bangun jam segini, ini masih terlalu pagi, biasanya dia baru akan bangun saat aku membangunkannya. Atau jangan-jangan tadi aku terlalu ribut menyiapkan sarapan ini ya?!

 

Kami menyantap sarapan itu dalam diam. Dia sama sekali tak mengeluarkan suara sedikit pun, sepertinya kembali tenggelam dalam pikirannya. Sementara aku, sama sekali tak mau mengganggunya, aku hanya tak ingin merusak saat-saat indah yang diciptakannya. Begitu selesai sarapan, dia segera berdiri, membereskan meja, melarangku untuk ikut membersihkannya. Dia malah menyuruhku segera berangkat kerja. Dengan sedikit enggan, aku menuruti kemauannya, lagipula bukankah selama ini aku paling tak bisa menolak keinginannya. Semuanya akan kulakukan agar aku bisa selalu membahagiakannya. Semuanya.

 

Aku mempercepat langkahku, tak ingin terlambat ke tempat kerja. Aku melirik jam di pergelangan tanganku, pukul 06.30, masih ada waktu setengah jam sebelum jam kerjaku dimulai. Walaupun sudah cukup lama bekerja di tempat itu, tapi aku sama sekali tak ingin menciptakan kesan buruk pada atasanku. Aku mengambil jalan pintas, jalan yang sangat jarang kulalui sebenarnya. Kalau lewat jalan utama, sebenarnya hanya butuh waktu 15 menit, tapi entah kenapa perasaanku berkata aku harus lewat jalan ini.

 

Aku segera berbelok di persimpangan, mengambil jalan pintas itu. Aku berjalan sambil memperhatikan kondisi perumahan di sekitarnya. Rumah-rumah disini terlihat cukup bagus, setidaknya jauh lebih bagus dibanding rumah-rumah di kompleks tempat tinggal kami. Taman-tamannya juga lebih tertata rapi.

Bukkk . . . ~~

 

Aku menoleh ke asal suara itu. Di seberang jalan, tampak seorang anak kecil yang sedang tiarap mencium jalanan. Sepertinya anak kecil itu tadi sedang berlari-lari kemudian jatuh. Aku berlari kecil menghampirinya, kuangakat tubuh anak kecil itu hingga berdiri, seorang namja ternyata. Kubersihkan pakaian dan tubuhnya dari debu yang menempel. Kucari bekas-bekas luka yang mungkin terjadi akibat insiden kecil itu tapi tak ada.

 

“ Gwaenchana ?? “

 

Anak kecil itu menatapku selama beberapa detik kemudian mengangguk. Kuusap rambutnya pelan, lucu sekali anak ini, mata bulat hitamnya itu sungguh menggemaskan.

 

“ Siapa namamu ?? “

 

Kedua pasang mata itu kembali menatapku, bibir kecilnya yang merah tersenyum menampilkan deretan gigi susunya yang putih.

 

“ Yoogeun ,, Jung Yoogeun imnida “

 

[[ to be continued ]]

4 thoughts on “Spesial Jaebum & Woo’s Bday : Finding You (Chapt 01) [Fanfiction]

  1. Pingback: Spesial Junsu’s Bday : A Fate Called Love (Chapt 01) [Fanfiction] « I am Hottest ♔ Queen's

  2. Pingback: Spesial Junho’s Bday : A Fate Called Love (Chapt 01) [Fanfiction] « I am Hottest ♔ Queen's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s