You are The Apple of My Eyes [Fanfiction]

Title            : You are The Apple of My Eyes

Main Cast : Choi Soyeon

                        Lee Sungyeol

Genre        :  Romance

Length      :  Oneshot

Author      :  CySuchy

 

Dedicated to our beloved pabo maknae @SoYeon_Ai a.k.a Choi Soyeon. Time to move on lol~
Request by you. So you should be the one who’ve read this !!!!!

 

20110923_sungyeol

 

Note :::

* Based on movie with the same title. I’ve changed a litle bit of the story. Enjoy ^^

* WARNING ALERT : Some kind of POV changes maybe make you confused or maybe the time changes. Mian… I make it in about 3 hours, kind of hurry, bcoz of the main cast :p

 

 

# SUNGYEOL’s POV #

[ Februari 2013 ]

 

Aku membuka mataku dengan enggan. Kutatap samar lampu kamar yang terletak tak jauh dari tempatku berbaring. Aku mengejap-ngejapkan mataku lagi mencoba mengumpulkan seluruh kesadaranku. Sekelilingku seakan bergoyang. Apa ini?! Apa aku merasa pusing? Tapi aku kan sedang berbaring sekarang.

Ada sesuatu yang terasa menepuk-nepuk kakiku. Ranjang di bawahku seakan ditendang.

“ Sungyeol-ah…”

Samar-samar kudengar ada suara yang memanggilku.

“ Yaa, Sungyeol, ayo bangun “

“ SUNGYEOL-AH “

Kesadaranku langsung kembali. Kutatap heran Hoya yang kini sedang menatapku juga dengan ekspresi panik.

“ Yaa palli, ayo bangun, bisa-bisa kau tewas disini “

Mendengar kata tewas, dengan segera aku bangkit terduduk, menatap sekilas sekelilingku, isi kamar berantakan. Buku-buku dan kaset game yang biasanya teratur rapi itu malah kini berserakan di lantai.

“ Yaa, palli “

Kini aku sudah melompat dari tempat tidurku. Menyusul Hoya keluar dari kamar. Kami berlari mengitari lorong dan sampai di depan asrama. Teman-teman yang lain sudah berkumpul disana. Masing-masing sibuk dengan telepon di tangan mereka.

“ Yaa Lee Sungyeol, bagaimana bisa kau tak terbangun dengan gempa sekuat itu “ aku hanya bisa cengengesan mendengar teman sekamarku yang lain menggerutu. Aku memang kalau sudah tertidur entah kenapa takkan sadar dengan apapun.

“ Apa yang terjadi ?! “ Aku mengamati keadaan sekitar, semuanya masih sibuk dengan telepon mereka.

“ Aku tak tahu, kata polisi patroli yang lewat, ada gempa di daerah sekitar Busan. Katanya sampai ada gedung yang rubuh disana “ ujar Hoya kembali sibuk mengutak atik hapenya.

Busan??

Kurogoh saku celanaku dan kudapati telepon genggamku ada di dalamnya.

Untung tadi aku kecapean sepulang jalan-jalan, jadi aku tak sempat berganti pakaian dan langsung tertidur. Sial, tak ada sinyal. Sepertinya karena disini terlalu banyak orang.

Aku segera menjauh dari kerumunan sambil terus mengecek sinyal dihapeku. Busan, Busan, Busan, ada gempa di Busan. Tuhan, semoga tak terjadi sesuatu dengannya. Aku terus saja berjalan menjauh, tetap saja tak ada tanda-tanda signal di handphone ini. Sial.

Aku terus berlari ke arah utara, tiba-tiba langkahku terhenti di persimpangan jalan. Tanda silang yang tadinya ada di bagian atas display handphoneku itu menghilang. Tiga garis muncul. Aku berteriak kegirangan, dengan segera menekan nomor yang sudah kuhapal di luar kepalaku itu.

Aku menunggu, sudah deringan ketiga tapi teleponku belum diangkat. Apa terjadi sesuatu padanya?! Tidak, jangan sampai, kumohon jangan.

“ Yeoboseyo . . . . .  “

 

 

# SOYEON’S POV #

[ April 2009 ]

 

“ Yaa !!! “

Aku menoleh, mendapati satu-satunya teman dekatku di sekolah itu mengerucutkan bibirnya menatapku. Kedua alisku berkerut heran menatapnya.

“ Apa yang kau pikirkan sampai kau terlihat begitu serius, huh?! “ tanyanya kini sambil menyikutku pelan. Aku menggeleng perlahan. Pandanganku kini menatap teman-teman sekelas kami yang kini asyik saling mencorat-coret seragam mereka. Tanda tangan, ucapan perpisahan, bahkan ada yang seragamnya sudah penuh warna bukan coretan tinta, cat sepertinya, ckckckckck.

“ Jadi,, kau sekarang mau memberitahukanku secara resmi siapa yang kau sukai diantara mereka ?! “ temanku itu kembali mengusik lamunanku dengan pertanyaannya.

“ Mwoya~ “

“ Ayolah Soyeon-ah, maksudku, sebagai temanmu aku tentu sudah bisa menebak-nebak orang yang kau sukai. Tapi sebagai temanmu juga bukankah aku pantas untuk mendengar pernyataan resmi darimu !?” dia kembali mengoceh seperti kebiasaanya.

“ Aku selalu memberitahumu setiap detailnya, tapi kau . . . Soyeon-ah . . . “

“ Siapa menurutmu ?! “

“ Ummm, aku punya tiga pilihan sebenarnya “

“ Malhaebwa~ “

Aku menggeser posisi dudukku dan kini menatapnya.

“ Umm, awalnya kukira kau menyukai sunbae kita, Sunggyu oppa “ Aku kembali mengernyit. Sunggyu sunbae??

“ Maksudku, kalian berdua satu ekskul dan kalian sering terlihat bersama, dan . . . “

“ Itu karena aku sekertarisnya “

Aku mengabaikannya dan kembali menyaksikan aksi seru-seruan teman-teman seangkatanku itu.

“ Okay, yang kedua menurutku, kau menyukai Mr. Perfect kita, Kim Myungsoo “

Aku hanya terkekeh mendengar pernyataannya kini.

“ Yah, maksudku, siapa yang tak menyukainya. Dia tampan, pintar, sopan dan . . . kaya “

Dia mengucapkan kata terakhir itu dengan tak yakin, dia tahu aku sama sekali tak memusingkan hal itu.

“ Maksudku lagi, kau termasuk siswa teladan di sekolah dan kupikir sah-sah saja kalau kau bilang kau juga menyukai seorang siswa teladan seperti Si Myungsoo. Maksudku,,, lagi… Yah taka da salahnya kalau kalian jadian “

Aku membuka sekaleng coke baru dan kusodorkan padanya. Dia meneguknya pelan-pelan, mengambil nafas dan kini menatap diam ke arahku. Aku menghembuskan nafas pelan, tahu kalau masih ada yang ingin dikatakannya.

“ Okay, siapa tebakanmu yang terakhir?! “

Dia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, mengatur kembali letak poninya yang berantakan tertiup angin dan kembali mengerucutkan bibirnya, kali ini menatap lurus kedepan tanpa menatapku.

“ Risung-ah “

“ Okay, aku sebenarnya tak ingin berpikiran seperti ini, kau tahu ?! “

Aku diam, menunggunya melanjutkan ucapannya.

“ Tapi, plis, aku hanya memperhatikan sikapmu belakangan ini. Kau sering memperhatikannya. Maksudku kau peduli dengannya. Kau mengajarinya sehingga belakangan ini nilainya mulai membaik. Kau tiba-tiba jadi suka tertawa mendengar gurauannya yang sebelumnya tak pernah terjadi. Kau . . . “

Aku masih tetap diam.

“ Soyeon, Choi Soyeon, please, jangan bilang kalau kau menyukai manusia paling kekanak-kanakan sejagat raya . . . . . . Lee Sungyeol !??! “

 

 

# SUNGYEOL’S POV #

[ Januari 2010 ]

 

Aku membaca kembali pesan yang tertera di handphoneku itu entah untuk yang keberapa kalinya. Aku meremeas-remas tanganku, gelisah.

“ Ahjussi, bisakah kau lebih cepat lagi ?! “ ujarku pada sopir taksi tua itu. Ahh, sial, ini akibatnya kalau salah naik taksi yang pengemudinya kakek-kakek. Karena dia mengemudinya pelan, makanya aku tak bisa cepat sampai ke tempat tujuan, apalagi dalam keadaan mendesak seperti ini. Aku tak ingin dia menunggu lama.

Kalau kutahu hal ini akan terjadi sebelumnya, motor kesayanganku takkan kupinjamkan pada Hoya untuk dipakainya kencan. Sial.

Aku kembali duduk gelisah selama kurang lebih 10 menit sampai taksi tumpanganku itu berhenti di depan stasiun. Aku segera membayar ongkos taksi dan berlari secepat yang kubisa. Katanya dia menunggu di sekitar peron 7. Aku mengedarkan pandanganku mencarinya sampai kutemukan dia berdiri diam sambil tertunduk menatap ujung sepatunya. Pipinya menggembung lucu. Kebiasaannya kalau sudah bosan.

Aku memeriksa sekilas pantulan diriku dari bayangan yang ada di kaca stasiun dan berjalan mendekatinya. Semakin mendekat, debar jantungku juga semakin cepat.

“ Soyeon-ssi “

Dia menoleh, melihatku selama beberapa detik, dan tersenyum. Akupun ikut tersenyum menatapnya. Dia masih sama seperti dulu. Matanya, senyumnya bahkan model rambutnya juga masih sama.

“ Apa kau sudah lama menunggu ?! Mianhaeyo, aku . . . “

Dia menggeleng pelan menyela perkataanku.

“ Mianhaeyo, Sungyeol-ssi. Aku tak tahu harus menghubungi siapa di Daegu sini. Aku hanya tahu kalau kau kuliah di daerah ini. Apa aku menggangumu ?! “

Dengan cepat aku menggeleng menjawab pertanyaannya.

“ Aniyo, aku sama sekali tak ada agenda hari ini. Kau sama sekali tak mengganggu atau merepotkanku “

Dia tersenyum mendengar jawabanku. Lalu kami berdua pun terdiam, kehilangan bahan pembicaraan. Maksudku, hei, bagaimana bisa?!

Kami bisa terbilang dekat sewaktu sma, apa setahun tanpa komunikasi membuat kami jadi kikuk begini.

“ Ehh, apa, kau mau, jalan, makan, ehh “

Dia terkekeh mendengar ucapanku. Akupun ikut tertawa melihatnya. Sungyeol  bodoh.

“ Kajja . . . “

 

 

# SOYEON’S POV #

[ Oktober 2010 ]

 

“ Apa? Pertandingan ? “

Aku menutup buku yang sedari tadi kubolak balik percuma. Fokus pada apa yang sedang dikatakannya.

“ Ya, pertandingan. Aku mengadakan pertandingan di asrama kau tahu. Maksudku, bukankah membosankan kalau setiap harinya hanya belajar!? Kami laki-laki, kami butuh hal-hal seperti ini “

Aku berusaha mengatur nafasku, mengendalikan amarahku. Apa dia sudah gila? Pertandingan? Mereka akan berkelahi, saling memukul, saling  menyakiti apa gunanya itu?

“ Soyeon-ah, apa kau masih disana?? “

“ Aku… aku mengantuk, kurasa aku ingin tidur sekarang “ Ujarku beralasan. Entah kenapa kepalaku mendadak sakit. Kepalaku terutama hatiku.

“ Baiklah, pertandingannya besok lusa, kau harus datang oke?! “

Terdengar nada diputus dari seberang. Kupandangi telepon di tanganku itu dalam diam. Apa-apaan ini?1 Kenapa dia melakukan hal seperti itu? Maksudku, kupikir selama ini kami sudah dekat. Tiada hari terlewati tanpa kabar. Saling mengetahui keadaan masing-masing. Bahkan kami sering menghabiskan waktu libur bersama.

Makan, nonton, menemaninya menjenguk neneknya di Ilsan. Bukankah itu berarti kami sudah cukup dekat?! Cukup dekat, sehingga kupikir aku sudah bisa mengerti tentang dirinya. Cukup dekat baginya untuk tahu kalau aku tak suka hal-hal berbau kekerasan seperti itu.

Dia, apa dia tak mengerti kalau aku mencemaskannya. Aku khawatir dia terluka, sampai kenapa-kenapa. Walaupun belum ada kata pasti dalam hubungan kami, tapi aku juga punya hak untuk merasa cemas dengan dirinya bukan?! Apa aku tak berarti apa-apa baginya sehingga dia tak cemas tentang aku yang mencemaskannya??

 

 

# AUTHOR’S POV #

Yeoja itu berjalan memasuki ruangan yang tadi ditunjukkan. Namja di depan tadi bilang disini tempat pertandingan itu dilaksanakan. Yeoja itu meremas kedua tangannya menguatkan dirinya untuk terus berjalan. Semakin masuk ke dalam, semakin jelas terdengar suara ribut-ribut kerumunan di depannya.

Tampak orang-orang berkumpul membentuk lingkaran menyaksikan pertandingan yang sedang berlangsung. Para namja asyik berseru menyerukan jagoan masing-masing. Sementara beberapa yeoja yang ada disana yang tampaknya tak merasa takut sedikit pun terlihat ikut menikmati tontonan itu.

Awalnya yeoja itu enggan untuk ikut masuk dalam kerumunan itu, tapi begitu mendengar nama yang diserukan orang-orang disekitarnya itu, dia pun memberanikan diri kesana. Begitu dekat, dengan jelas dia melihat namja yang sedari tadi dicemaskannya itu ada di tengah-tengah lingkaran. Sedang asyik dipukuli oleh namja bertubuh kekar yang ,menjadi lawannya. Dia meringis menatap namja itu.

Satu pukulan dan namja itu tersungkur di depan yeoja yang tak pernag melepaskan tatapannya sedetikpun dari namja itu. Namja itu merasakan sakit di bagian tubuhnya yang dipukuli dan  juga sedikit pusing. Tapi dia masih belum menyerah, bukan begini kemauannya.

Terlebih lagi, saat dia berusaha bangkit dan melihat yeoja yang disukainya itu kini ada disitu, dipertandingannya, dihadapannya, menyaksikannya bertarung. Oh tidak, tentu saja dia jadi semakin tak ingin menyerah. Lagipula dia melakukan semua ini demi yeoja itu bukan. Dia ingin memberanikan diri menyatakan perasaannya pada yeoja itu.

Yeoja yang disukainya sejak dia menginjakkan kaki di bangku sekolah tinggi. Sejak dulu, dia ingin mengutarakan perasaannya. Hanya saja dia takut ditolak, dia takut dia tak punya apa-apa yang bisa dibanggakan di hadapan yeoja pujaannya itu.

Dan setelah sekian lama berpikir akhirnya dia menemukan jawabannya. Ya, jawabnnya dan keberaniannya tentu saja. Bukankah hal yang harus dibanggakan dari seorang laki-laki adalah kekuatannya?! Kalau begitu dia akan menunjukkan pada yeoja ini kalau dia laki-laki yang kuat, yang bisa diandalkan, bisa melindunginya, pantas menyukainya.

Dengan sekuat tenaga, dia berbalik menyerang lawannya yang terlihat lengah itu. Pukulannya nampaknya cukup kuat dan lawannya itu benar-benar tak siap, sehingga dia rubuh seketika. Namja itu begitu senang, dia ingin segera berlari memeluk yeoja itu tapi begitu dia menoleh, yeoja itu sudah hilang dari pandangannya.

Setelah menyelesaikan remeh temeh pertandingan itu, namja itu bergegas keluar aula mencari yeojanya. Dia baru berniat kembali ke kamarnya untuk mengambil teleepon genggamnya saat dia melihat ternyata yeoja yang dicainya malah sedang duduk di depan asrama mereka. Dengan sumringah dia mendekatinya.

“ Soyeoan-ah, eotte?! Aku keren bukan ?! Dia pikir aku sudah kalah, dia lengah, jadi aku pun menggunakan kesempatan itu untuk menyerangnya, puk, puk, puk, dia roboh dan . . . “

“ Apa kau senang?! “

“ Tentu saja. Aku sangat senang kau datang menonton “

Yeoja itu menatap namja di depannya tajam.

“ Aku tanya apa kau senang ? “

Ujar yeoja itu lagi dengan ekspresi datar. Namja itu tampaknya menyadari perubahan aneh pada yeoja di depannya. Sikapnya mulai melunak.

“ Hey, kau kenapa, jangan seperti itu “

“ Apa maksudmu dengan mengadakan pertandingan seperti ini ? “

“ Bukankah itu hal yang keren? Dua namja saling bertarung untuk melihat siapa yang menang dan kalah “

“ Itu sama seperti orang bodaoh. Untuk apa saling memukul seperti itu. Kenapa kau melakukan hal seperti ini? Kenapa kau bersikap kekanak-kanakan seperti ini ? “

“ Kekanak-kanakan ?? “

“ Ya, kekanak-kanakan, sangat kekanak-kanakan “

Namja itu menatap tak percaya pada yeoja di hadapannya itu.

“ Apa kau pikir hal yang membuatku senang ini, kekanak-kanakan? Apa ini kekanak-kanakan bagimu ?? “

Ekspresi marah terlihat jelas dimata keduanya.

“ Ya, kenak-kanakan, sangat kekanak-kanakan. Sampai kampai kau bisa berhenti melakukan hal bodoh seperti ini ?? “

“ Tapi ini sesuatu yang menyenangkan “

“ Senang katamu? Apa membuat dirimu terluka membuatmu senang? Apa membuat orang lain cemas membuatmu senang? Itu kekanak-kanakan namanya, egois. “

Namja itu terdiam mendengar kata-kata itu. dia melakukan semua ini kan demi dia, kenapa?!

“ Apa kau akan melakukan hal seperti ini lagi nanti?! “

Tanya yeoja itu. Namja yang sedang terpancing amarahnya itu menjawab tanpa berpikir,

“ Tentu saja aku akan melakukannya lagi. “

“ Kekanak-kanakan. “ ujar yeoja itu mengulanginya untuk yang kesekian kalinya.

“ Kenapa kau terus melarang hal yag kusukai dan menyebutku kekanak-kanakan?! Ya, aku memang kekanak-kanakan. Terlalu egois bahkan untuk berusaha mendekati yeoja dewasa sepertimu. Aku terlalu kekanak-kanakan bahkan sampai detik ini juga masih berusaha mendekatimu “

Keduanya terdiam, saling memandang emosi.

“ Kalau begitu berhenti mendekatiku “ ujar yeoja itu kali ini tanpa berpikir. Namja itu terdiam lagi, kemudia berbalik pergi, tak peduli dengan hujan yang kini mengguyur tubuhnya semakin deras.

“ Bodoh !!! “ teriak yeoja itu.

“ Benar, aku memang bodoh “ balas namja itu, terus berjalan tanpa menoleh.

“ Tolol !!! “

“ Hanya orang tolol yang bisa terus berusaha mendekatimu selama itu “

Namja itu masih terus berjalan.

“ Kau tak mengerti apa-apa “

“ Aku memang tak mengerti apa-apa “

 

 

# SOYEON’S POV #

[ Februari 2013 ]

 

Kerumunan orang-orang yang berkumpul di jalan semakin banyak saja. Gara-gara gempa barusan, orang-orang jadi panik. Para petugas polisi sedang berusaha mengamankan lalu lintas dan kerumunan orang-orang di jalan. Aku tak tahu apa yang pastinya terjadi, tapi sepertinya gempa terjadi di dekat sini.

Eomma dan Risung baru saja menelepon, menanyakan keadaanku. Aku bilang aku baik-baik saja. Untunglah aku dan Dongwoo oppa berada jauh dari lokasi gempa, dan untung saja tak ada hal buruk yang terjadi.

Oppa menggenggam tanganku menyeberangi arus manusia yang masih panik di jalanan. Kami berusaha kembali ke tempat mobil kami di parkir, tapi sepertinya mobil juga takkan bisa jalan di tengah kerumunan seperti ini.

Kami baru saja sampai di dekat mobil ketika telepon ditanganku kembali berdering. Kulihat nomor yang tertera di layar handphoneku.

Tak tertera nama kontak disana, yang ada hanya nomor. Nomor yang dulu sudah kuhapal diluar kepala. Nomor yang dulu melihatnya muncul dilayar handphoneku benar-benar membuatku senang. Nomor yang sudah hampir 3 tahun ini tak pernah enghubungiku lagi.

Kutatap Dongwoo oppa yang sudah masuk ke dalam mobil. Kutatap lagi layar handphone itu dengan ragu. Setelah tadi sempat terhenti, nomor itu kembali menghubungiku untuk kedua kalinya. Dengan pelan, kugeser tombol hijaunya dan mendekatkan benda itu ke telingaku,

“ Yoboseoyo . . . . . “

 

 

# SUNGYEOL’S POV #

[ Desember 2013 ]

 

Aku mematut diriku lagi di cermin, berusaha merapikan jas dan dasi yang kupakai. Aku menatap pantulan wajahku lagi di cermin. Lee Sungyeol, nappun namja.

“ Yaa kajja, kau tak mau terlambat di hari sepenting ini bukan ?! “

Woohyun, teman SMA-ku dulu muncul dari balik pintu kamarku. Kulihat Myungsoo dan Sunggyu hyung juga ada disampingnya.

Aku merapikan jasku untuk yang terakhir kalinya kemudian berjalan mendekati mereka. Myungsoo tersenyum dan menepuk bahuku pelan. Kami pun segera menuju ke tempat pesta dilaksanakan.

>>>>>>> 

Pestanya dilaksanakan di gedung milik keluarga Myungsoo. Gedung mewah yang memang sering dijadikan tempat untuk resepsi pernikahan. Para tamu undangan yang diundang juga cukup banyak. Yah, sebagian besar orang-orang yang tak kukenal tentu saja. Memang ada beberapa teman SMA kami, tapi sebagian yang lain teman-teman kantor Soyeon dan juga rekan bisnis suaminya.

“ Kau tahu, sejak dulu kupikir salah satu dari kita yang akan mendampingi Soyeon nanti “ ujar Woohyun sambil menuangkan minuman di gelas milik Risung.

“ Siapa menurutmu? “ tanya Sunggyu hyung sambil tersenyum.

“ Entahlah, diantara kalian menurutku “

“ Memangnya kau termasuk ?! “ aku bertanya heran padanya.

“ Hey,, kau kan tahu sejak dulu aku mengejar Risung bukan Soyeon “

Ucapannya itu malah mendapat jitakan pelan dari Risung yang ada disebelahnya.

“ Kupikir kau yang akan nantinya menikah dengannya “ ujar Risung kali ini menatap kearahku. Aku mengernyitkan kedua alisku, aku?!

“ Ya, kau. Maksudku, kau yang selama ini paling dekat dengannya bukan ?! Bahkan saat maslah nilainya kemarin, kau yang pertama kali dihubunginya bukan aku “ ujar Risung lagi terlihat kesal.

Aku tersenyum simpul mendengar pernyataan itu. Ya, dari awal aku mulai menyukainya kau juga berharap aku yang saat ini ada disisinya, bukan orang lain.

 

[ Flashback, Februari 2013 ]

“ Yeoboseyo . . . . .”

Aku hampir saja menutup teleponku saat terdengar jawaban dari seberang itu.

“ Yeo, yeoboseyo . . .”

“ Mwohae ?? “ suara itu, suara yang sangat kurindukan selama ini.

“ Soyeon-ah . . . “

“ Hmmm… “

Aku terdiam lagi, lupa dengan niatku meneleponnya.

“ Yaa~ Kau hanya meneleponku setelah tiga tahun hanya untuk bilang namaku? Bukan untuk bertanya apa aku baik-baik saja atau tidak “ ujarnya lagi terdengar sedikit kesal. Aku terkekeh pelan, membayangkan ekspresi wajahnya yang cemberut saat dia mengatakan itu.

“ Ahh ne, kau dimana? Apa kau baik-baik saja? Tak terjadi apa-apa padamu bukan? Sekaranag kau sedang apa? “

“ Ya, Ya , Ya,, kau ini, tiap bertanya selalu saja seperti itu. “

Dia tertawa pelan. Aku rindu suara tawanya itu.

“ Aku baik-baik saja. Kami berada jauh dari tempat gempa. Hanya saja disini terlalu banyak orang di jalanan. Mungkin akan sedikit susah untuk pulang ke rumah. “

“ Syukurlah kalau begitu. Aku pikir terjadi sesuatu. Maksudku, aku mendengar pusat gempanya disekitar Busan. Aku… syukurlah “

“ Gomawo “ Ada jeda sesaat sebelum dia bilang itu.

“ Kau sendiri ?? “

“ Aku? Aku jelas-jelas sangat jauh dari pusat gempa. Hanya terasa bergoyang saja disini “

Dia terdiam, kubayangkan dia sedang mengangguk-angguk mendengar jawabanku.

“ Hey, apa yang kau lakukan selama ini ?! “

“ Aku sibuk dengan kuliah dan kerjaanku tentu saja. Kau? Jangan bilang kau hanya bermain dan bermalas-malasan saja “

Aku tertawa mendengar hal itu.

“ Hey, kau begitu mengenalku ternyata “

Kami terdiam lagi.

“ Kau tahu, aku benar-benar terharu kau menghubungiku sekarang “

Aku tersenyum mendengar uacapannya.

“ Tentu saja, kau orang yang kusukai sejak dulu. Kalau kau tiba-tiba menghilang, aku harus cari siapa untuk mengembalikan kenangan kita? “

Dia tertawa pelan mendengarnya. Kami terdiam lagi. Sibuk dengan perasaan masing-masing.

“ Soyeon-ah, apa,, kalau saat itu aku tak pergi, apa kalau saat itu aku tak bersikap terlalu kekanak-kanakan, apa mungkin sekarang kita bisa bersama-sama ?? “

Dia tak segera menjawab pertanyaan itu. Ada desah napas tertahan yang terdengar.

“ Mungkin saja “ Kali ini dia pasti menjawabnya dengan senyum tipis di bibirnya.

Giliran aku yang diam, aku menatap langit malam  diatasku. Ada bulan dan taburan bintang disana. Mungkin saja dia juga sedang menatapnya kini.

“ Apa kau percaya dengan dimensi paralel, Soyeon-ah?? “

“ Dimensi parallel?! “

“ Ya… mungkin saja di dimensi itu kita sedang bersama L

Dia terdiam tak langsung menjawab lagi.

“ Ahh, aku benar-benar sangat iri dengan mereka “

Kami terdiam lagi, disibukkan perasaan masing-masing lagi.

“ Sungyeol-ah,, terima kasih . . . karena kau telah menyukaiku “

Aku tersenyum mendengar hal itu.

“ Aku juga sangat suka. Aku suka, dengan diriku yang sangat menyukaimu itu “

Aku menghembuskan napas pelan,

“ Kau selamanya adalah hal yang terindah di mataku “

[ End of Flashback ]

 

Lampu ruangan mendadak dimatikan. Lampu langsung menyorot ke pintu masuk, ke arah kedua pengantin memasuki ruangan. Dia disana, yeoja yang sedari dulu mengisi hatiku, bahkan hingga sekarang.

Dia disana tersenyum bahagia bersama seorang pria disampingnya, pria yang bukan diriku tentu saja. Awalnya aku tahu, saat kau menyukai seorang wanita, untuk mendoakannnya bahagia dengan pria lain adalah hal yang tidak mungkin. Bagaimana kau mendoakannya bahagia dengan orang yang bukan dirimu.

Tapi ternyata aku salah. Saat kau menyukai seorang wanita. Benar-benar sangat menyukai seorang wanita. Ketika ada seorang pria lain yang juga begitu mencintai dan mengasihinya, maka kamu akan benar-benar dari hati yang paling dalam mendoakan dia bahagia selamanya dengan orang itu :’)

 

# SOYEON’S POV #

Aku meraih bingkai foto yang terpajang manis di depanku itu. Mengelusnya pelan, perlahan. Foto itu foto masa SMA kami yang diberikan Sungyeol beserta dengan kado pernikahan yang lain. Foto di saat kami masih belum begitu sadar dengan hal yang seharusnya dilakukan atau tidak. Saat kami masih belum memikirkan penyesalan yang mungkin nantinya akan terjadi.

Kalau melihat foto itu, membuat aku memikirkan seandainya seandainya yang dulu sering sekali kupikirkan. Seandainya dia dengan tegas menyatakan perasaannya padaku, seandainya aku tak perlu menunggu ucapan apa-apa darinya, seandainya saja waktu itu aku tak emosi dan menyebutnya kekanak-kanakan, seandainya.

Risung heran, karena walaupun aku begitu dengan Sungyeol, tapi kami tak pernah benar-benar jadian. Dia tak pernah dengan tegas mengutarakan perasaanya padaku. Aku tahu dia menyukaiku, dari sikapnya, dari gelagatnya. Laki-laki sering bilang, kalau tindakan, sikap lebih penting dari sebuah ucapan. Tapi bagi wanita, kadang kau butuh sebuah permulaan dulu, sebuah awal, sebuah ucapan tentang bagaimana perasaanmu sebelum kau membuktikannya. Karena kediaman hanya akan membuat hati wanita ragu.

Tapi, itu dulu, mulai sekarang aku harus berhenti memikirkan seandainya seandainya tentang kami. Cerita kami, cerita tentang perasaan kami, cukup sampai disini. Tak ada takdir yang mengikat perasaan kami.

Sekarang aku punya Dongwoo oppa. Orang yang kutahu benar-benar mencintaiku. Kadang wanita memang harus bersama dengan pria yang benar-benar mencintainya bukan pria yang benar-benar dia cintai.

Aku meraih kartu yang ikut serta ada dalam kado itu. Sebuah kartu ucapan. Tapi tak ada ucapan selamat disana. Hanya ada sebuah kalimat, yang seharusnya diucapkannya sejak dulu. Sebuah kalimat, yang saat akhirnya diucapkannya malah sudah terlambat. Tapi, tetap saja aku menyukai kalimat itu.

 

“ YOU ARE THE APPLE OF MY EYES . . . . . . . “

 

PARADISE SungYeol (1)

8 thoughts on “You are The Apple of My Eyes [Fanfiction]

  1. aigoo iyeoja *gebukin onnie* *kabur*
    okey what first?
    ah matta,
    lee sungyeol-ssi wae you not tell me about your feel first?? ah jinca wae???
    ini lagi soyeon anak siapa sih ribut nyok(?)
    udah tau sungyeol suka ama dia, pake nungguiin sungyeol ngomong.
    ko pas kata” ” terkadang wanita harus menikah dengan pria yang mencintai dia bukan yang benar-benar dia cintaii ” ko jleb *mikirin diri sendiri
    keputusunnya ffini main castnya bego
    si cowok kenapa kalo suka gak bilang? emang dengan tindakan aja cewek bisa ngerti? orang lu merlakuiin cewek sama *ko curcol(?) *abaikan
    dan ceweknya *terharu
    udah kaga usah di tungguiin tuh cowok ngomong ttg perasaanya, toh lu ama dia juga masa lalu
    eh kepanjangan ini comment.
    ya udah bye onnie gomawo udah mau bikinin aku ff peyuk dulu coba *peyuk”

    • Jdi ada yg percaya, klo dunia itu pnya dimensi paralel,
      Dimensi dmna, disaat yg sma skrg, kita ngelakuin hal yg berbeda dgn apa yg kita lakuin skrg,,
      Misnya, kita hrus mlih A ato B, kita milihnya B, di dimensi paralel, kita milih A dan ngelakuin hal berbeda,,

    • Maksud yeol dstu, sama keq seandainya yg soyeon bcarain d ending,
      D dimensi paralel, yeol gak jdi mrah, dy mnta maaf ke soyeon, baikan, happy ending,
      Ato soyeon yg minta maaf ke yeol mgkin,,
      Smua kmngknan yg bsa trjdi yg brbeda dgn ap yg mrka lakuin, egois, dgn ego msg2😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s