Thank You 01/02 [Fanfiction]_Edit Version

Tittle                 : Thank You

Main Cast        : Park Jiyeon T-ara
Nam Woohyun Infinite

Genre               : I dunno

Length             : 1/2 of Trilogi

Author             : CySuchy

Disclaimer     ::  Ide tunggal FF ini dari sebuah buku yang pernah Author baca *astaga, lupa judulnya apa, MIANHAE*. Selebihnya, hasil jerih payah sendiri.
Park Jiyeon milik saya seorang, apalagi Nam Woohyun, sudah di HaKI lol~

 

tumblr_lyxolx7BvG1qfsx15o1_500

    Cr. to the piccu owner

** Park Jiyeon’s POV **

February, 09

 

Aku menghempaskan tubuhku lemas di atas tempat tidur. Lagi-lagi hari ini berlalu dengan sangat membosankan dan mengesalkan. Kupeluk erat boneka dinosaurus yang berukuran besar itu, sambil berusaha mengusir bayangan kejadian tadi dari pikiranku. Huffftt . . . Kenapa aku harus menjadi saksi dari kejadian menyebalkan seperti tadi ?! Harusnya tadi aku tak memutuskan untuk kembali ke ruang kelas mencari buku partitur musikku yang hilang. Kenapa aku tak membiarkannya hilang saja. Atau kenapa aku tak mencarinya besok saja, sebelum kelas dimulai. Kenapa harus hari ini ?!

Arrgghhhh . . . .

 

Sebuah kepala tiba-tiba menjulur dari balik pintu kamarku, wajahnya memandang heran ke arahku. Aku segera menutup tubuhku dengan selimut. Tapi, tak sampai sepuluh detik, tiba-tiba selimutku tersibak.

 

“ Eonnie. . . “

 

Aku kaget melihatnya yang kini sudah duduk di samping tempat tidurku.

 

“ Waeyo ?? Kenapa kau berteriak ?! “ tanyanya penasaran. Aku segera memperbaiki posisi dan duduk bersandar di sebelahnya.

 

“ Kenapa kau bisa tiba-tiba muncul ?? “  Kedua alisnya terangkat mendengar pertanyaanku.

 

“ Aku baru saja akan pergi ke kamarku, tapi saat melewati kamarmu aku mendengar kau berteriak. Wae ?? “  aisshh,, kalau kakakku ini sudah bertanya, dia tak akan berhenti sebelum mendengar jawabannya.

 

“ Ani, ani “  aku berusaha mengelak, walaupun aku tahu itu percuma.

 

“ Ya~  Par Ji Yeon, aku mengenalmu bahkan sejak kau belum mengenalmu dirimu sendiri. Dan sekarang kau berusaha menyembunyikan sesuatu dariku ?? “  dia merebut boneka dinosaurus yang sedang kupeluk. Aku terdiam selama beberapa saat, mengumpulkan keberanian untuk mengungkit kejadian tadi.

 

“ Eonnie “ aku merebahkan kepalaku di bahunya.

 

“ Tadi, saat aku kembali ke kelas musik, aku melihat Woohyun oppa. “

 

“ Wae ?? Bukankah kau seharusnya senang ?! Katamu sudah hampir 2 minggu kau tak melihatnya ?! “

Aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya.

 

“ Tapi, dia tak sendiri. Dia disana sedang mengajari seorang yeoja bermain piano. Dan mereka terlihat begitu mesra. “

Tangan Eunjung eonnie terulur memeluk bahuku dan mengusapnya pelan.

 

“ Apa itu yeojachingu-nya ?! Apa kau mengenalnya ?! “

 

Aku mengangkat bahu, bayangan kejadian tadi kembali berputar di kepalaku. Kami terdiam selama beberapa saat. Tiba-tiba dia bergeser, kedua tangannya merengkuh bahuku.

 

“ Kau harus mengatakannya !! “

Ehh ?! Aku melongo menatapnya, apa maksudnya!?

 

“ Kau harus mengatakan pada Woohyun, kalau kau menyukainya “

Aku terdiam sesaat, berusaha mencerna ucapannya.

 

“ Shiro . . . “  aku melepas cengkeraman tangannya dan bangkit duduk di kaki tempat tidur.

 

“ Wae ?? Selama ini kau menyukainya, tapi dia sama sekali tak tahu. Mungkin saja kalau dia tahu, status hubungan kalian bisa berubah “

Dia semakin gencar membujukku.

 

“ Shiro, shiro, shiro . . . “

Sekarang dia bangkit, berdiri sambil berkacak pinggang di hadapanku.

 

“ Kalau kau tak mau melakukannya, maka biar aku saja yang mengatakan padanya. “

Aku kaget dengan ucapannya, memang dia dan Woohyun oppa adalah teman sejak smp.

 

“ Andwae . . .  Kau tak boleh melakukannya eonnie ! Ini urusanku, kau tak boleh mengganggu “ bantahku keras kepala. Dia terlihat kesal menerima sikapku, digaruknya kepalanya yang tak gatal.

 

“ Aissh… kalau begini bisa-bisa tiap hari aku mendengar curhatan patah hatimu “

Aku diam, segala pikiran berkecamuk dibenakku.

 

“ Bagaimana kalau dia nanti dia benar-benar punya yeojachingu ?? “

 

“ Aku tetap tak akan mengatakannya. Toh bisa saja mereka putus “

 

“ Bagaimana kalau nanti mereka menikah ?? “

Aku terdiam mendengar pertanyaan itu. Bayangan Woohyun oppa yang memakai jas hitam dan seorang yeoja cantik bergaun putih melintas di otakku.

 

“ Aku,, aku akan mengatakan perasaanku, sehari sebelum pernikahannya. “ ujarku masih tetap keras kepala.

 

“ Ya~ bukankah itu sudah terlambat?! Apa gunanya kau menyatakan perasaanmu pada orang yang sudah menjadi milik orang lain !? “

 

“ Setidaknya, dia tahu kalau aku menyukainya. “

Dia menyerah berbicara denganku dan berjalan menjauh ke arah pintu. Tangannya menggapai pegangan pintu dan membukanya, namun seketika dia berbalik dan menatapku,

 

“ Bagaimana kalau dia meninggal, kau takkan tahu pasti kapan hal itu terjadi bukan ?! “

Aku terdiam menatap wajahnya, bayangan Woohyun oppa yang tadi bersanding di pelaminan, kini berubah lokasi menjadi dalam peti mati.

 

“ Eonnie, kau mendoakan Woohyun oppa cepat mati ya?! “ kulemparkan boneka dino di tanganku ke arahnya, namun dengan sigap dia berlari dan menutup pintu. Sehingga boneka itu hanya sukses mencium belakang pintu kamarku dan teronggok diam di lantai. Aku terpaku membayangkan perkataannya, andwae, semoga hal itu tak terjadi.

******

 

June, 13

 

Tok tok tok . . .

Untuk kesekian kalinya pintu kamarku diketuk. Kali ini terdengar suara appa, umma dan Eunjung eonnie bersahutan memanggilku, namun aku mengabaikannya. Kupeluk erat foto seorang namja yang telah menyita perhatianku selama 3 tahun belakangan ini.

 

“ Oppa, waeyo ?? Kenapa kau meninggalkanku ? Padahal aku belum mengatakan apapun padamu. Padahal aku belum menyatakan perasaan ini padamu. Tapi kenapa kau malah pergi? Kenapa ?? “

 

Aku mengusap air mata yang membanjiri wajahku dengan lengan bajuku. Kupandangi lagi foto Woohyun oppa yang sedang tersenyum manis menampakkan eye-smile-nya. Aku benar-benar tak menyangka hal ini bisa terjadi, walaupun aku tahu setiap manusia pasti akan mengalami kematian. Namun, untuk hal ini aku benar-benar tak bisa menerimanya. Satu-satunya orang yang begitu kusayangi sejak lama telah pergi, tapi dia bahkan tak tahu kalau aku menyayanginya. Kenapa bisa ini terjadi padaku ? Apa Tuhan begitu tak menyayangiku ??

 

Tok tok tok . . .

Suara ketukan itu lagi kembali terdengar. Sekarang suara teman-temanku yang memanggil. Aku tahu, mereka sangat cemas akan keadaanku. Ini sudah hari ketiga sejak kecelakaan yang merenggut nyawa Woohyun oppa terjadi. Sejak kembali dari pemakamannya, aku mengurung diri dalam kamar dan terus menangis. Sama sekali tak mau beranjak dari sini. Dikamar ini satu-satunya tempat aku bisa melihat semua refleksi seorang Nam Woohyun. Semua dinding kamarku penuh dengan tempelan foto dirinya yang kuambil diam-diam. Selama berada disini, aku bisa merasa dekat dengannya. Dengan dengan orang yang kusukai sejak pertama kali melihatnya. Tingkahnya, polahnya, tawa candanya, suaranya. Semuanya kini hanya akan ada dalam memoriku saja. Aku tak lagi bisa menggapainya.

Aku tak lagi bisa diam-diam merekamnya yang sedang asyik dengan pianonya. Aku tak lagi bisa diam-diam memperhatikannya yang asyik bercanda dengan teman-temannya. Aku tak bisa lagi pura-pura berpapasan dan sekedar menegurnya. Tak bisa.

Dia tak ada lagi. Takkan membalas sapaanku lagi. Takkan tersenyum padaku lagi. Takkan ada di setiap kelas musik yang selalu kuikuti.

Aku merebahkan diriku di atas kasur, memeluk erat foto Woohyun oppa didadaku, kemudian memejamkan mata. Oppa, maukah kau datang dalam mimpiku sekali saja ?! Aku benar-benar ingin bertemu denganmu. Sungguh . . .

******

 

July, 17

 

Aku menyibakkan tirai penutup jendela kamarku. Sinar matahari pagi masuk melalui celah-celah kaca jendela, kembali memberikan aura kehidupan dalam kamarku. Selama ini, aku menutupnya karena merasa asing dengan sinar itu. Ya, aku sudah keluar dari ‘sangkar’-ku. Sedang mencoba menata kembali kehidupanku yang kacau sejak hari itu. Umma, appa dan Eunjung eonnie benar-benar stress dengan aksi mengurung diriku, sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk membuka kamarku dengan paksa. Begitu melihat keadaanku yang terbaring lemah dengan air mata, dengan segera mereka berlari memelukku. Umma bahkan menyuruhku berjanji agar tak melakukan hal bodoh seperti ini lagi. Kalau tidak, bisa-bisa aku bukan hanya kehilangan Wooohyun oppa, tapi juga kedua orang tua dan kakakku tersayang. Akhirnya aku setuju berjanji padanya untuk memulai menata kembali hati dan pikiranku, walaupun separuh nyawaku seakan ikut hilang bersama kepergian seorang Nam Woohyun.

 

Aku masih tetap menolak untuk keluar beraktifitas. Aku juga masih enggan kemana-mana, masih tetap asyik tinggal dalam tempat dimana semua foto dan benda kenangan Woohyun oppa ada di dalamnya, di kamarku. Jadi, setiap saat umma, appa, Eunjung eonnie serta teman-temanku datang menemaniku di kamar  ini. Mereka bercerita denganku tentang apa saja, walaupun hanya menerima anggukan atau gelengan dariku sebagai balasannya. Bahkan ruang makan dan ruang santai keluargaku otomatis pindah tempat ke kamarku ini. Aku tahu, aku benar-benar tak pantas melakukan hal ini pada mereka. Tapi, sungguh aku benar-benar tak punya lagi semangat untuk melakukan hal seperti biasanya.

******

 

September, 5

 

Aku menatap tumpukan buku yang ada dihadapanku. Beberapa buku ini sepertinya harus kusingkirkan agar tak ada lagi ruang sesak di lemariku. Aku membuka satu persatu buku-buku itu, melemparkan buku-buku musik yang tak lagi kupakai ke kardus dekat kakiku. Toh, aku takkan memerlukan buku-buku itu lagi. Sejak memutuskan untuk kembali ke kehidupan normal, aku juga memutuskan untuk berhenti kuliah di jurusan musik. Aku memutuskan untuk mengambil minat yang lain, bahkan rencananya aku akan pindah ke universitas lain. Terlalu menyakitkan untukku tetap berada di tempat dimana banyak kenangan Woohyun oppa di dalamnya. Aku juga telah mengatur rapi barang-barangku. Seperti kata umma, aku tak bisa terus-terusan hidup dalam bayang-bayangnya. Aku mungkin takkan semudah itu melupakannya, tapi saat orang yang kita sayangi pergi, kita yang hidup harus tetap berjuang untuknya. Berjuang mempertahankan kenangannya yang ada dalam memori kita. Karena hanya itu satu-satunya cara agar dia bisa tetap bersama kita.

 

Saat sedang sibuk memberskan tumpukan buku-buku itu, mataku terpaku menatap sebuah buku hitam yang ada di bagian belakang rak. Sepertinya aku baru melihat buku ini, kenapa bisa ada disini. Aku mengambilnya dan membuka halaman terakhir buku itu, disana aku  menemukan kertas dengan tanggal peminjaman terakhir atas namaku. Kuperhatikan tanggalnya, aha… buku ini yang kuambil sembarangan dari rak buku waktu itu. Aku ingat, saat itu aku sedang mencari buku referensi untuk tugasku di perpustakaan kampus. Tiba-tiba saja aku melihat Woohyun oppa yang sedang duduk asyik membaca sebuah buku. Aku begitu terpaku menatapnya, namun tiba-tiba saja, seperti menyadari kehadiranku dia menoleh ke arahku dan tersenyum. Tentu saja, aku langsung gugup dan salah tingkah. Dengan cepat kusambar salah satu buku yang berada di rak dekatku, berjalan ke meja peminjaman dan segera melangkah ke luar perpustakaan.

 

Aku membawa buku itu dan duduk di atas tempat tidur. Mengamati buku itu dengan teliti. Cover depan dan belakang buku itu berwarna hitam pekat dan tanpa gambar atau tulisan apapun. Sungguh aneh, mana bisa ada buku yang diterbitkan tanpa judul. Aku segera membuka halaman pertama buku itu dan menemukan tulisan yang cukup aneh. Apa ini ?! Aku sama sekali tak bisa membacanya, bahkan aku juga tak tahu jenis huruf atau bahasa apa yang tertulis itu.

 

Kubuka lagi halaman selanjutnya dari buku itu. Halamannya penuh dengan tulisan aneh yang tak bisa kubaca. Aku terus menelusuri halamannya dan menemukan gambar seorang pria dari samping. Gambar itu memperlihatkan seorang pria yang kaget melihat pemandangan di hadapannya. Aku memperhatikan gambar hutan gelap yang ditatap pria itu, apa yang membuatnya kaget ?! Begitu melewati beberapa lembar halamannya, tampak gambar dua ekor serigala dengan latar belakang hutan rimba. Diantara tubuh kedua serigala itu, tampak sepasang kaki yang mirip kaki manusia. Hal itu segera menggelitik rasa penasaranku, mungkin gambar ini merupakan perbesaran dari gambar pria yang kulihat tadi. Dengan semangat, kubuka terus halamannya untuk mencari gambar selanjutnya.

 

Setelah melewati beberapa halaman, aku akhirnya bisa menemukan sebuah gambar. Sebuah siluet bayangan tubuh seseorang. Seorang manusia dengan sayap di kedua sisi tubuhnya. Aku menatap gambar itu, malaikatkah?? Kuamati tulisan di bawahnya, nothing, tetap sama tak bisa dibaca. Aku membalik halaman itu dan menemukan gambar di belakangnya, sebuah lingkaran. Kuamati lagi tulisan di bawahnya. Aku bisa mengenali huruf-huruf alfabet yang terukir disitu, berusaha membacanya.

 

“ Summon circle . . . “ aku membacanya dengan terbata-bata. Ahh, kenapa susah begini.

 

“ Devil . . . “ ohh, aku tahu, berarti gambar manusia bersayap tadi bukan malaikat,

 

“ Grant wishes. . . “ aku mengernyit. Aku tahu, jadi lingkaran ini adalah lingkaran pemanggil setan yang bisa mengabulkan permintaan.  Ih wow . . .

 

“ Cinnamon powder. . . “ bubuk kayu manis ?!

 

“ Melt… Melted.. Cho..Co..late.. melted Chocolate ?? “ hhahah,, ini lingkaran pemanggil setan atau resep kue sih..,

Hebat ! Siapa pun yang menulis ini sepertinya dia memiliki selera humor dan imajinasi yang tinggi.

 

“ Jiyeon-ah “ aku menengok mendapati Eunjung eonnie berdiri di depan pintu kamarku.

 

“ Kau jadi ikut denganku ke toko buku ?! “

 

“ Ah, ne “ aku meletakkan buku aneh itu di atas lemari buku, mengambil dompet dan handphoneku, serta menggeser kardus tadi hingga berada diluar dekat pintu.

 

“ Apa ini ?! “ tanya Eunjung eonnie sambil melihat isi kardus tadi.

 

“ Buku-buku lama, aku berniat menyerahkan itu pada teman-temanku yang lain. Toh aku takkan menggunakannya lagi nanti “

 

Dia mengangguk mendengar penjelasanku.

 

“ Kajja “ ujarnya sambil menggandeng tanganku menuruni tangga.

******

 

September, 10

 

Aku duduk di lantai kamarku, mengamati lingkaran di hadapnku. Mataku bergantian menatap buku dan lingkaran itu, berusaha membandingkan keduanya.

“ Mirip “

 

Aku sedang berusaha membuat ‘lingkaran pemanggil setan’ dari buku yang kubaca beberapa hari lalu. Karena tak ada kerjaan, maka aku iseng melakukannya. Toh tak ada ruginya bukan !? Setidaknya aku tak perlu melakukan penyembelihan hewan, menggunakan darah atau hal ekstrim lainnya, hanya butuh bubuk kayu manis dan coklat leleh. Kuamati lagi gambar tersebut dan mencoba membaca tulisan di halaman sebelah.

 

“ C.. O.. ini huruf M atau N, sih ?! “

 

“ Con,, Come “ spontan aku berteriak begitu sukses membaca tulisan itu.

 

“ H.. E..  arrghh !! Bodo’… “ dengan kesal aku menutup buku itu dan mengembalikannya ke rak. Aku segera mengambil sapu dan alat pel untuk membersihkan hasil perbuatanku itu. Begitu selesai, aku segera rebahan di kasurku sambil menyetel ipod. Kupasang earphone ditelingaku dan mulai memejamkan mata.

 

Entah kenapa, tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Aku merasakan aura yang berbeda di kamarku. Seperti ada orang lain yang bersamaku. Aku memejamkan kedua mataku semakin rapat. Ketakutan spontan menguasaiku. Siapa?? Jangan-jangan maling ?! Pencuri ?! Tapi, ini kan siang hari, masa ada pencuri yang mencuri siang bolong ?! Tapi, kalau bukan pencuri, lalu siapa ?!

 

Aku menghela nafas, berusaha memantapkan hati. Dengan tiba-tiba, aku segera bangkit ke posisi duduk, berusaha menyeret tubuhku sampai menyandar di kepala tempat tidur dan membuka mata. Cahaya matahari dari jendela membuat mataku silau. Dan untuk sesaat, aku mengerjap-ngerjapkan mata berusaha beradaptasi dengan cahaya itu. Perlahan-lahan, mataku mulai bisa melihat. Benar saja. Ada orang lain yang berada di kamar ini denganku.

 

Yang pertama-tama terlihat adalah sepasang kaki. Kemudian paha, perut, dada, kedua tangan, leher dan terakhir wajahnya. Aku terdiam memandangi sosok di hadapanku. Terpaku menatap wajahnya yang kini tersenyum sinis menatapku, ditambah dengan pakaian serba hitam yang dipakainya. Apa ini?? Siapa dia??

Kuakui memang, dengan rambut ikal, tubuh tegap, dan sorot mata tajam yang terus menatapku itu, makhluk di hadapanku ini benar-benar terlihat tampan. Tapi, dia siapa?! Kenapa bisa muncul di kamarku ?! Kenapa bisa ada dihadapanku ?! Malingkah??

 

 

 

 T to be B to C

>>>>>>>>> 

 

One thought on “Thank You 01/02 [Fanfiction]_Edit Version

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s